Skip to main content

Menjaring Sunyi di Toko Buku Kobam

 


Kecerobohan membuat saya tanpa sengaja terlempar ke tempat ini. Ya, seharusnya saya sedang asik membaca buku atau mengetik di perpustakaan Freedom Institut yang ada di Wisma Bakrie, Kuningan. 

Entah saya yang malas mencari tahu ataukah mereka yang tak mengeluarkan pemberitahuan, tapi saya terlanjur menampakkan kaki ke lantai dasar, tepat sebelum diberitahu petugas bahwa perpusnya tutup sampai tanggal 4.

Mulut saya menganga, bukan karena itu pertama kalinya menjumpai perpustakaan tutup tapi karena saya tak menyiapkan skenario tambahan. Saya seperti ditodong, hendak kemana setelahnya? Saya melangkahkan kaki keluar hanya agar tidak berdiri terlalu lama di lantai itu. Malu Juga. Di luar cuaca panas. Matahari Jakarta memang sedang terik-teriknya. 

Berjalan ke arah barat saya mulai menemukan berbagai penjual makanan. Perut saya memanggil seolah senang dengan keberadaan mereka tapi otak saya seperti seorang ibu yang menolak rengekan anaknya yang meminta permen gulali. Iya saya paham saya lapar tapi bukankah ada roti selai srikaya di dalam tas? 

Misalkanpun saya abaikan roti selai serikaya itu, apakah yang harus saya beli? Terlalu banyak pilihan. Mungkin tempat ini menjadi pusat kuliner murah kantor-kantor di sekitarnya. Semua makanan ada. Nasi goreng, ayam bakar, penyet, soto, soto mie, satai, padang, ketoprak, batagor dan kawan-kawan lamanya.

Kaki saya mondar mandir bukan hanya karena bingung mau beli apa tapi juga berpikir saya harus kemana? Dari rumah saya tak membawa plan B, tekad saya hari ini hanya sampai ke perpustakaan Freedom Institut. Sayang sungguh di sayang, perpustakaan itu bukan milik saya pribadi yang bisa saya buka dan tutup seenaknya.

Setelah membeli jus strawberry dan batagor saya melangkah ke taman di depan area gedung perpus. Tampak beberapa orang ngadem di taman itu. Ada yang berpasangan, ada yang sendiri. Saya memilih ruas bangku kosong yang teduh karena bayangan pepohonan. 

Hp di tangan kiri saya tak henti hentinya berbunyi. Lala, kawan saya yang sedang bekerja puluhan kilometer dari tempat saya duduk tiba-tiba ikut panik mendengar saya terlantar di tanah orang. Ia lalu melakukan riset cepat untuk menemukan tempat tujuan terbaik untuk saya. Bahkan ia sampai menanyakan beberapa tempat di grup chat. Duh, kenapa saya membuat panik anak orang?! 

Akhirnya saya putuskan ke toko Kobam (Komunitas Bambu) di daerah Menteng saja. Lala pun menyetujuinya. Terlihat dari Google Map jaraknya paling dekat dan ongkos ojol ke sana pun hanya 10 ribu rupiah. 

Opsi naik ojol tentu saja terdengar paling masuk akal dibanding berjalan kaki 500 meter ke stasiun LRT Setia Budi. Belum lagi kalau naik LRT saya tetap harus jalan kaki dari st. Dukuh Atas BNI, berputar ke St. Sudirman dulu baru berbalik menuju ke jalan Rembang. Huft.

Ojek yang saya tumpangi mulai berbelok ke ruas jalan yang lebih kecil. Benarkah jalan ini?  Tapi saat saya melirik map di HP abang ojol ternyata memang benar ini jalannya. Ojol itu menghentikan saya tepat di sebuah bangunan bertingkat. Plang bulat berwarna hijau bertuliskan “KOBAM, toko buku dan cafe” menandakan saya sudah berada di titik yang tepat.

Tidak besar memang. Tidak juga nyentrik dan alami seperti toko Kobam di Depok. Sebuah pohon -yang sampai sekarang saya tak tahu namanya- berdiri kokoh di halaman toko ini. Batu kerikil mengitarinya, menahan agar tanah di bawahnya tak lembab dan becek ketika diserang hujan.

Ketika masuk toko, hawa dingin seolah menyambut siapa saja yang datang. Mata saya mengitari seluruh ruangan, tak butuh lama, hanya sekian detik. Maklum tempatnya tak begitu luas, tapi cukup untuk menjadi sebuah toko. Ukurannya mungkin tak lebih dari 6 x 6 meter. Ada seorang penjaga perempuan yang ketika saya datang tak terlihat batang hidungnya karena tertutup layar monitor besar berwarna hitam. 

Gambar Pramoedya Ananta Toer dan Sitor Situmorang yang sedang tertawa bersama dengan ukuran cukup besar memenuhi dinding sebelah kanan toko. Buku-buku  ditata dalam rak tinggi berbahan kayu yang diperhalus dengan warna yang dibiarkan tetap alami. Jika dilihat lagi rak ini berbentuk seperti huruf “P”.


Sebuah meja kayu besar dengan bentuk tak beraturan menampung buku-buku yang dijejer-jejer secara rapi. Yah, rupanya selain toko Kobam Depok (soal ini akan saya ceritakan di lain tulisan), di tempat inilah buku-buku terbitan Kobam menjajankan diri.


Oh ya bagi yang belum tahu Kobam atau Komunitas Bambu fokus menerbitkan buku-buku sejarah. Buku-buku yang dijual di toko Kobam juga hanya buku terbitan  mereka sendiri.

Di sini tak ada buku terbuka yang bebas dibaca pengunjung layaknya di toko Kobam Depok. Tak ada pepohonan raksasa yang menutupi sisi-sisinya dari panasnya cuaca akhir-akhir ini. Meski begitu toko ini berhasil menyembunyikan seseorang dari bisingnya suara kendaraan di Jakarta. 

“Ini kopi Kobam yang bikin?” tanya saya melihat deretan kopi dengan bungkus bertulisan unik. Ada kopi Pram, Kopi Habis Dungu, Kopi Bukan 350 Tahun yang belakangan saya sadar ternyata gambar-gambar itu berasal dari cover buku-buku Kobam.



“Kopinya bukan Kobam yang bikin tapi nanti bisa saya seduhkan, Kak” kata si penjaga.

“Sayang saya nggak ngopi Kak, kalau selain kopi apa?”

“Ada teh rempah Kak,”

“Boleh deh itu Mbak,”

Tak selang lama teh rempah dalam gelas enamel pun datang. Wangi rempah lebih cepat menyeruak karena dinginnya ruangan. Ternyata rasanya lebih seperti jamu. Pahit masih tersisa meski sudah ditambah gula. Seketika perut saya langsung hangat dengan satu kali tegukan.


Saya sempat berpikir untuk membeli buku baru tapi lagi-lagi saya teringat tumpukan buku baru yang terlantar di rumah. Dalam perjalanan berangkat tadi saya sempatkan membaca “Mirah dari Banda”, sebuah buku yang saya beli lebih dari 10 tahun lalu tapi baru bisa saya baca akhir-akhir ini. Iya iya… sudahlah, kutuk saja saya ramai-ramai!

Saya sudah melahap setengahnya dan mulai memahami secara perlahan lahan mengenai sejarah Banda. Tentu saja saya tak ingin menceritakannya di sini. Review buku Mirah dari Banda akan saya buat terpisah begitu berhasil saya rampungkan. Tapi yang menarik adalah, saya menemukan sebuah buku berjudul Genosida Banda, kejahatan kemanusiaan JP Coen. Sebuah nama yang sering hilir mudik di telinga anak sekolah ketika mempelajari sejarah.

Apakah pembantaian yang dimaksud sama halnya yang tersebut dalam novel Mirah dan Banda? apakah buku ini lebih seperti versi non fiksinya? Rasanya  ingin sekali membuka plastik kemasannya dan membacanya tapi saya tahan. Ini bisa menghancurkan tatanan bacaan yang sedang berusaha saya selesaikan!

Saya mencari beberapa buku sejarah terkait kerusuhan Poso dan sejarah Semarang tapi Kobam belum memilikinya. Saya pun menilik kembali koleksi mereka. Ada lagi buku berjudul “Tenabang Tempo Doeloe” maksudnya ya Tanah Abang tempo dulu. Lagi-lagi buku ini mengusik rasa penasaran. Bagaimana kiranya tempat grosir terbesar se Asia Tenggara itu di jaman dulu? 

Ah, rasanya saya ingin mengutuk diri sendiri karena malas membaca. Andaikata saya lebih rajin dan mau sedikit memaksakan diri mungkin saya bisa bebas melahap buku-buku baru. Tapi bukankah lebih baik dibeli saja agar tidak tambah menyesal? Akhirnya saya putuskan membeli juga si “Tenabang Tempo Doeloe” itu. wkwk.


Teh saya mulai dingin. Ruangan berAC ini membuatnya cepat dingin. Meski begitu sisa tehnya masih mampu memberikan kehangatan ketika menyentuh lambung. Sebuah instrumen musik klasik membuat tempat ini semakin tenang. Padahal sebenarnya kalau dihitung tak begitu jauh dari rel kereta api tapi entahlah… rasanya memang sangat tenang. Apalagi kala itu hari kerja dan sayalah pengunjung satu-satunya.

Tiba-tiba saja saya terpikir, senang sekali rasanya jika saya bisa bekerja seperti Mbak penjaga Kobam. Saya bisa membaca dan menulis di sela-sela sepi pengunjung. Saya bisa melihat buku semau saya begitupun sebaliknya. Bisa hidup seperti itu tak perlu memikirkan gaji. Berapapun asal cukup buat makan tidaklah apa. Anyway adakah yang perpustakaan atau toko buku yang butuh penjaga baru? Kabari saya secepatnya ya!

Rupanya toko ini baru buka bulan Februari lalu. Pantas saja saya jarang mendengarnya. Hm, ya mungkin tanpa rencana dadakan, niat untuk berkunjung ke toko Kobam Menteng akan selalu terdistorsi dengan rencana-rencana lain. Mungkin memang sudah jatah saya untuk mengunjunginya. Menemukan gambaran hidup yang saya inginkan, menemukan tempat untuk sejenak menyendiri. 

Mungkin saja suatu saat saya akan memilikinya sendiri, sebuah toko buku, sebuah taman baca yang di antaranya terselip buku-buku bertuliskan nama saya sendiri. Who knows?

Teh hangat yang bertambah dingin mengingatkan, saya sudah cukup lama berdiam di tempat ini. Tapi sebenarnya saya masih ingin berlama-lama. Kapan lagi saya bisa menulis dan membaca dengan tenang? Sayangnya toko ini tak punya banyak pilihan makanan selain cookies, kopi dan teh. 

Saya seperti tak punya alasan untuk bisa bertambah lama di sana. Ya, sampai jumpa lagi Kobam, suatu ketika saya akan kembali ke sini, toh tempat ini tak jauh dari stasiun yang sering saya kunjungi, stasiun Sudirman. Terima kasih untuk ketenangan dan kedamaian yang saya rasakan selama beberapa menit. Tetaplah sehat, tetaplah ada.



Hai, saya Ire. Bagi saya hidup adalah lifelong learning, pembelajaran yang tiada akhir. Melalui blog ini mari sama-sama belajar sembari sesekali bercerita mengenai kisah perjalanan hidup yang sudah saya lewati :)

Comments

  1. Dari rencana ke perpus Freedom ternyata tutup, kemudian jajan di UMKM dan lanjut memutuskan otw ke Kobam (Komunitas Bambu) Perjalanan penuh makna. Seolah semesta udah mengatur sedemikian rupan, mendadak tapi tetap berkesan dan malah menemukan buku baru bersampul hijau. Jadi penasaran juga sama isinya.

    Ku kira ngopi hehhee, ternyata teh rempah ya. Ku berharap sih Kobam ini ramai pengunjung. Secara lokasi pun strategis, bisa jalan kaki kan ya dari St Sudirman?

    Aku jujur tertarik sama Kobam karena koleksi bukunya bagus juga. Berkaitan sejarah. Selaku anak muda harus sempatkan baca sejarah nih buat paham alur hidup kedepannya.

    Semoga segera bisa dapat pekerjaan impian, menjaga dan merawat toko buku serta membaca di sela kesibukan ya. Semangat terus kak.

    ReplyDelete
  2. Kadang begitulah, apa yang dituju tidak sesuai, tak apa dengan itu jadinya bertemu tempat yang sebenarnya memang sudah menunggu.

    Terima kasih sudah memilih toko buku Kobam, terlebih menuliskannya. Menambah pilihanku nanti kalau waktu sedang manjanya untuk disentuh dengan baca dan menikmati teh dan segelas kopi.
    Membayangkan tempat ini seperti oase, ditengah kejaran tanggung jawab, ada ruang tenang untuk menikmati nikmatnya membaca.

    Aku gagal fokus dengan buku yang dirimu baca, Mirah dari Banda. Otw cari tahu lebih jauh tentang buku itu, penasaran. Karena Banda satu pulau yang seorang tokoh, jangan mati sebelum kesana.

    ReplyDelete
  3. Aku baru tahu tentang Kobam ini kak dan ternyata kebanyakan buku-bukunya tentang sejarah yaa,,,menarik sie sebenarnya karena kita jadi lebih tahu tentang sejarah negara kita ini yang ceritanya jarang kita temukan di buku-buku yang dijual di toko buku biasa...
    Berkunjung ke salah satu toko buku dan cafe spt ini masuk dalam salah stu wishlist ku karena kau blm pernah menemukan toko buku sekaligus cafe spt Kobam ini..kalo liat bbrp toko buka cafe yang seliweran di IG kesannya kok adem tenang gt jadi pengen ngerasain vibe nya :)

    ReplyDelete
  4. Tempatnya homey sekali, kak. Teh dalam gelas enamel, buku, dan suasana yang tenang duh... benar-benar dambaan setiap pagi.
    Memang di Indonesia ini karena ojol murah, transportasi umum jadi terkesan tidak mandatory. Coba di SG, naik taksi mahal, ojol gak ada, jalan kaki 1 kilometer pun dijabanin haha.

    Kalau aku ke situ, aku mau minta diseduhkan kopinya.

    ReplyDelete
  5. KOBAM kalau bahasa malangan itu MABOK hehehehe. BTW Pengalaman tak terduga yang menginspirasi! Cerita tentang menemukan ketenangan di Toko Buku Kobam setelah "terdampar" dari perpustakaan yang tutup sangat relatable. Rasanya seperti menemukan oase di tengah hiruk pikuk Jakarta. Salut untuk observasi detail dan kejujuran dalam berbagi perasaan, dari kebingungan hingga akhirnya menemukan ketenangan dan inspirasi. Teh rempah dan suasana hening Kobam benar-benar berhasil "menjaring sunyi."

    ReplyDelete
  6. Suasana nya seperti perpustakaan keluarga jadul ya tempatnya adrm dan bikin nyaman buat baca buku itu nama KOBAM artinya MABOK kah kalau dibalik hehehe

    ReplyDelete
  7. toko buku Kobam itu terletak di Rumah Flat yang sedang viral itu ya. Aku udah lama nandain tempat yang satu ini, krn penasaran sama toko buku dan rumah itus endiri. Agak khawatir jadi tergoda beli buku sementara ada banyak buku yg masih tersimpan rapi sm plastiknya... Ah, tapi mau deh samperin, tergoda banget setelah melihat foto2 di sini.

    ReplyDelete
  8. Kalo ga baca tulisanmu, aku ga bakal tahu ada toko buku sekaligus library dan cafe begini 😍😍😍😍. Apalagi buku yg dijual kebanyakan sejarah ❤️❤️❤️. Duuuh itu favoritku mbaaa. Paling suka baca sejarah suatu tempat di masa lampau. Membayangkan seperti apa tempatnya dulu, apalagi jika ada foto2 penunjang.

    Ini ga jauh sih dari rumahku. Bisalah kalo weekend ajak suami kesana

    ReplyDelete
  9. Menikmati secangkir teh di toko buku yang sunyi dan hanya ditemani musik klasik itu nyaman banget ya. Kebayang ditambah suasana hujan hehehe

    Saya baru dengar Toko Buku Kobam ini. Di Bandung ada gak ya kira-kira?

    ReplyDelete
  10. This is blessing in disguise. Ketika rencana gagal karena perpustakaan tutup tapi ternyata malah bisa jalan ke toko buku kobam yang kece banget. Di sana ada kafenya juga, jadi pengen nyicip es kopi susu gula aren. Jadi kalau makan atau minum di kafe bisa pinjam buku di kobam ya? Seru banget!

    ReplyDelete
  11. Sunyi yang kemudian menghasilkan tangkapan wawasan, ketenangan dan informasi lainnya seputar apa yang dibaca di sana
    Ketenangan membawa diri hanyut bersama lautan aksara yang harusnya meninggalkan kenangan berupa pola pikir yang lebih luas

    ReplyDelete
  12. Wohoooo aku mendambakan spot semacam iniiii🌺🌼💐 Kebayang vibes nya yg tenang, slow living bentaran gitu ye kann. beneran bikin mindfull bangettt dah.

    Duh untung ini bukan di Malang Jatim yakk.
    Karena klo di Malang tuh pakai bahasa Walikan alias dibalik² gitu mba...jadi Kobam.dibalik Mabok 😅🤣

    ReplyDelete
  13. Saya paling seneng tuh main ke toko buku. Melihat dan baca² bukunya milih² lalu beli...seruu aja kalau ke toko buku tuh. Apalagi pas lihat toko buku KOBAM ini. Adem banget yaaa bukunya spesifik lagi ttg sejarah...whuaaa menyenangkaan sekali....

    ReplyDelete
  14. Memang terkadang apa yang kita alami ga sesuai rencana. Tapi di situlah kita mendapatkan hal-hal baru yang menarik. Ga jadi ke perpus Freedom, Mbak Rere malah tersendiri di Kobam ya g menyenangkan. Saya malah tahu ada komunikas Bambu ini. Boleh lah kapan-kapan mampir. Apalagi jaraknya dekat dari stasiun dan tinggal jalan kaki saja

    ReplyDelete
  15. Unik namanya yaa.. Soalnya singkatan Kobam untuk anak drakorian, bisa beda makna banget tuuh..
    Dan di toko Kobam (Komunitas Bambu), malah bisa seseruan ngadem sambil ngemil dan baca buku.
    Pilihan bukunya banyaakk... dan pastinya kudu beberapa kali ke toko Kobam sih yaa.. biar bisa menuntaskan bacaan.

    ReplyDelete
  16. Wah wah aku baru tahu Kobam ini. Kalau lokasinya di pusat Jakarta bisa juga nih buat jadi titik pertemuan kalau mau kumpul2 ma temen2 :D
    Ini blessing in disguise ya mbak, karena walau perpus tutup tapi akhirnya bisa ke toko buku ini :D
    jadi lokasinya gak jauh dari Stasiun Sudirman ya?
    Mbak buku pilihanmu berat banget xixixi, mungkin itu yang bikin agak susah lanjutin, kyknya gak bisa diburu2 kudu butuh waktu. Aku kalau ke sana mungkin baca novel2 ringan atau yang detektif2an aja kalau ada atau mungkin yang berbau2 budaya bae deh :D
    Eh kok kopinya bukan Kobam yang bikin? jadi mereka ada kerjasama dengan coffee shop lain atau gimana?
    Ooo di Depok juga ada to? Di sebelah mana mbak? Mungkin bisa dikasi sekalian linknya di blogpost ini biar bisa baca juga.
    Kyknya wiken ini mau ke Depok hehe

    ReplyDelete
  17. Walah ternyata Kobam itu singkatan yaa. Haha.. Pantes kok unik banget ini namanya..

    Wow banget dengan koleksinya yang fokus ke buku-buku sejarah. Harus dipertahankan nih buku-buku sejarah yang otentik, sebelum isu-isunya sejarah Indonesia mau diganti 😥

    ReplyDelete

Post a Comment