Skip to main content

Mencuri Ilmu di IMAC Film Festival 2026


“Untuk syuting yang sedikit lampu dan bahkan nggak pakai lampu tu coba tempatkan kamera berlawanan dari sumber cahaya. Itu selalu works, bikin lighting jadi natural,” ujar Kak Dimas Bagus, Director of Photography, saat mengisi masterclass bertema Crafting Cinematic Visuals di IMAC Film Festival 2026.

Saat itu ia tengah menjelaskan bagaimana penempatan kamera ketika syuting video klip Kunto Aji berjudul Mercusuar. 

Kiprah Dimas Bagus di industri perfilman tak diragukan lagi. Ia merupakan sinematografer di balik film-film besar seperti Sore : Istri dari Masa Depan, 1 Kakak 7 Ponakan, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film hingga yang teranyar seperti Tinggal Meninggal.

Tak hanya film, ia juga terlibat dalam proyek-proyek pembuatan video klip penyanyi-penyanyi ternama seperti Yura Yunita dan Donne Maula.

Bisa dibilang, duduk di hadapan Kak Dimas dan bisa sedikit mencuri ilmu darinya merupakan sebuah kesempatan langka yang tak semua orang bisa dapatkan. 

Itu salah satu bentuk rasa syukur saya ketika mengikuti kelas di IMAC Film Festival 2026. 

Baru duduk beberapa menit saja, sudah banyak ilmu yang berhasil saya kantongi. Mulai dari trik penempatan kamera, pemanfaatan cahaya natural, hingga pergerakan kamera. 

Menurut Kak Dimas, pergerakan kamera seharusnya selalu memiliki alasan yang jelas, bukan sekadar untuk terlihat dinamis atau menarik. Setiap gerakan perlu berangkat dari emosi atau perubahan yang terjadi dalam adegan. Tanpa motivasi yang kuat, pergerakan kamera justru bisa mengganggu fokus penonton. Ketika memiliki alasan yang tepat, gerakan kamera akan terasa alami dan memperkuat cerita. 

Dimas Bagus di Masterclass IMAC Film Festival 2026

Ia juga berpendapat bahwa penempatan kamera bukan sekadar komposisi tetapi sudut pandang yang ingin diberikan kepada penonton. Setiap posisi kamera harus memiliki alasan jelas, karena itu menentukan bagaimana sebuah adegan dirasakan.

Jujur saya bukan seorang filmmaker, hanya seorang yang baru mau belajar menjadi seorang content creator, tapi ilmu yang dibagikan seolah tak berjarak, saya bahkan semua orang pun bisa menerapkannya meski hanya bermodal ponsel.

Di saat-saat seperti inilah saya merasa beruntung tinggal di Jakarta. Banyak ilmu bisa dipelajari secara gratis. Salah satu contohnya ya IMAC Film Festival ini. Kita bisa belajar tentang perfilman dari narasumber-narasumber yang mumpuni di bidangnya. 

Ada banyak kegiatan yang bisa diikuti secara gratis, seperti contohnya masterclass, diskusi, talk show hingga screening film. Seluruh rangkaian kegiatan tadi diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki mulai dari 16 sampai 19 April 2026.

Saya pun tak mau melewatkan kesempatan emas ini. Selain kelas Kak Dimas Bagus, saya juga ikut masterclass yang diisi oleh Kak Upie Guava. Beliau adalah seorang film director yang sudah banyak menghasilkan karya, baik film, video klip maupun iklan. 


Salah satu contoh film hasil karyanya adalah Pelangi di Mars, sebuah film fiksi ilmiah keluarga yang baru rilis pada 18 Maret 2026 lalu. 

Dia juga menjadi sosok penting dibalik pembuatan video klip dari berbagai musisi seperti Noah dengan lagu Kala Cinta Menggoda hingga Virgoun dengan lagu Surat Cinta untuk Starla.

Upie Guava di Masterclass IMAC Film Festival 2026

Di kelas ini saya banyak belajar terkait penggunaan teknologi dalam proses pembuatan suatu film. Saya juga mendapat banyak cerita menarik di balik proses produksinya. Cerita semacam ini tak akan saya dapat dari media manapun. 

Salah satu cerita yang cukup membekas dalam ingatan adalah ketika ia harus mengerjakan video klip Noah di tengah kondisi pandemi Covid 19. 

Dari situ saya belajar bahwa setiap dari kita punya kemampuan untuk melampaui batas. Kita bisa memaksimalkan ide meski dalam kondisi yang terbatas (pandemi). 


Ini adalah tahun ke 3 penyelenggaraan IMAC dan dilihat dari gelagatnya, sepertinya mereka tak pernah kapok menjadi wadah bagi sineas muda dan masyarakat seperti saya yang haus akan ilmu perfilman. Kehadiran mereka membuat jalan perfilman di Indonesia semakin mudah, terbuka dan luas. 

Seperti halnya tahun sebelumnya, IMAC tahun ini memuat berbagai kegiatan seperti road show, film camp hingga kompetisi. Yang membedakan adalah,  skala jangkauannya lebih luas hingga internasional. 

Tak hanya menerima film-film lokal, IMAC juga menerima film-film dari negara lain seperti China, India, Afrika, Kazakhstan, Italia dan Turki.

Tema Resilience dan Jawaban Tantangan Masa Kini


Begitu keluar lift lantai 4 Gedung Trisno Soemardjo, sebuah backdrop besar dengan dominasi warna kuning bertuliskan “Resilience” menyambut kedatangan saya. Itulah tema yang diusung IMAC tahun ini. 

Resilience mempunyai makna bertahan, beradaptasi dan pulih kembali. Di tengah kondisi yang tidak menentu seperti sekarang, kemampuan untuk tetap teguh menghadapi perubahan menjadi semakin penting. 

Resilience bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu menyesuaikan diri, belajar dari tekanan, dan kembali bangkit dengan lebih kuat.

Tahun ini mereka lebih banyak menggunakan desain doodle bernuansa pop art. Rupanya desain ini dipilih karena memiliki makna, sebagai representasi perjalanan batin yang meski penuh tekanan namun tetap berusaha bergerak menuju cahaya. 

Latar kuning yang tadi saya lihat dipilih sebagai simbol harapan, siluet labirin sebagai simbol kompleksitas jalan yang sering kali berliku dan cenderung menyesatkan.

Gaya pop art sendiri dinilai cukup ekspresif, berbagai elemen seakan memperkuat nuansa konflik, ketakutan serta tekanan eksternal sementara bunga sebagai penanda pertumbuhan di tengah situasi yang tidak ideal.

Bisa disimpulkan, makna resilience di sini bukan sekadar bertahan saja tapi bagaimana caranya bisa tetap tumbuh, berproses meski di tengah kekacauan. 

Saya rasa tema ini sangat relevan dengan masa kini. Banyak kondisi yang membuat seseorang terhimpit dan berada dalam situasi yang tidak mudah dan bahkan sulit. Permasalahannya adalah, kita tetap dituntut untuk tetap tumbuh di tengah keterbatasan dan kondisi semacam tadi.

Film pendek yang diikutsertakan dalam kompetisi IMAC 2026

IMAC menjadi semacam vitamin atau justru dopamine bagi mereka para sineas muda agar tetap bisa berkarya di tengah kondisi yang tidak menentu. Dengan kata lain, IMAC sudah seperti rumah, sekolah dan ayah yang siap mendukung setiap anak untuk tumbuh, bereksplorasi dan menemukan jalannya sendiri di dunia perfilman. 

Malam itu tas punggung saya terasa berat, ada banyak ilmu yang berhasil saya dapat. Sembari berjalan menuju ke stasiun, otak saya tak henti-hentinya berputar, mencoba merangkai ulang setiap potongan ilmu yang tadi saya dapat. 

Rasanya saya sudah tidak sabar ingin segera mempraktikkannya!

Hai, saya Ire. Bagi saya hidup adalah lifelong learning, pembelajaran yang tiada akhir. Melalui blog ini mari sama-sama belajar sembari sesekali bercerita mengenai kisah perjalanan hidup yang sudah saya lewati :)

Comments

  1. Daging banget ya ilmu yang di sharing sama kak Dimas. Bahkan konten kreator dan blogger pun bisa mengaplikasikan saat take foto maupun video. Rasanya sangat berharga dan aplikatif banget ini ilmu dari masterclass IMAC Film Festival.

    Pastinya ruang ini menjadi tempat bertumbuh para sineas muda, bahkan IMAC sudah berskala internasional juga ya. Terlalu berharga dan sayang buat di lewatkan, beruntungnya kita warga Jabodetabek, bisa menyelamatkan ilmu gratis di IMAC, bermodalkan meluangkan waktu dan mengosongkan gelas agar bertambah pengetahuan serta bisa di aplikasikan. Yuk bikin film pendek 🤩

    ReplyDelete
  2. Oh iya ya, bener juga.. kalau penyutradaraan itu nggak terbatas di film saja tapi juga di music video yang juga punya plot dan cerita. Bahkan beberapa music video bisa sangat ikonik dan masih diingat audiens sampai sekarang. Beruntung banget mbak Ire bisa nyerap ilmu dari para master di IMAC Film Festival.

    ReplyDelete
  3. Gillllssss pematerinya gak kaleng-kaleng euy. Portfolionya aja Sore si Wife from the Future. Udah pasti lah ilmu sinematografi yang disampein juga gak main-main. manalah kemaren aku dikasih tau mbak lala, katanya dia difolback sama bang Dimasnya coba. Beruntung bangett kaliannnn, hihihi.

    Terima kasih yaaa udah mampir ke acara IMAC ini. Maafkeun kalau kemarin ada 1 2 miskom, hihihi. Semoga kita semua diberi umur panjang tuk kembali bersua di tahun 2027 nanti. Amiiiin

    ke kalibata bareng uncle gedek
    Penuh tingkah dan lucu polahnya
    Rencana kita tuk bikin film pendek
    bagaimanakah kira kelanjutannya? hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia ujung si pantun. Tahun 2025 sempat berencana bikin film pendek, kuy gaskeun lah.

      Asli sih, beneran mencuri banyak ilmu dari event IMAC 2026 ini. Ada Kak Dimas Bagus yang wow amazing sekali materinya. Beneran kasih banyak tips seputar pengambilan gambar, angle, bahkan dengan perangkat sekedarnya pun bisa tetap optimal hasilnya. Beneran deh,beliau nggak pelit ilmu, semua di share, apalagi pas bahas film Sore, yaampun rasanya takjub sih. Terus yang bahas pengambilan scene 1 Kakak 7 Keponakan pun nggak kalah emosional itu, framing yang sedemikian ternyata kasih pesan rasa yang ngena ke penonton. The best, tahun 2027 mesti gaskeun kesana lagi.

      Delete
  4. Saya awalnya baca tentang IMAC ini dari postingan Mbak Fenny Bungsu. Ternyata Mbak Ire jga ke sana ya? Ketemuan ga dengan Mbak Fenny? hehehe.
    Nah, ternyata IMAC ini ajang yang keren ya, Mbak. Bukan saja bisa nonton film-film pendek keren, tapi juga ada kelas-kelas keren. yang pastinya isinya daging semua. Termasuk kelas dari Dimas ini. Ternyata begitu ya, tekniknya saat minim cahaya. Dan saya suka, dengan statment bahwa kita punya kemampuan untuk melampaui batas. Jadi selalu ada jalan dan saat kita dalam keadaan sulit. Apalagi dalam dunia seni. Imajinasi dan kreativitas termasuk faktor pendukung utama. Semoga tahun depan saya bisa ke IMAC.

    ReplyDelete
  5. ulasan IMAC aku baca dari teh siapa gitu tapi pas acara film pendek seseru itu acara IMAC belum lagi ini diulas kaa ire soal sinematographi ini berasa kita lagi umum tpi isinya rumus penting semua
    andai saja ku bisa ikut , mungkin ku juga bisa dapt ilmu eit dpt ilmu juga dong secara tidak langsung melalui tulisan teh ire hehe
    belajar langsung dengan pakarnya walau hanya sebentar pasti akan jadi pengalaman keren sih menurutku , apalgi ini IMAC sudh masuk tthun ke 3 ya ,

    ReplyDelete
  6. Waaaah menarik ini sebenarnya 😍. Terkadang saat sedang menonton film, aku juga penasaran cara pembuatannya... Ntah itu pergerakan kamera, lighting etc. Pasti ga mudah, belum lagi proses editing dll. Bangga juga Krn banyak film Indonesia yg mendapat penghargaan dari festival internasional. Beruntung sih mba bisa mendapat banyak ilmu begini dari expertnya, gratis pula.

    Memang yaa, jakarta itu keras , tapi di sini juga kita mudah akses segala sesuatunya.

    ReplyDelete
  7. wah keren banget kak bisa dapat ilmu langsung dari praktisi pembuat film. sebagai pecinta film aku juga penasaran banget dengan proses bagaimana mereka mengambil setiap adegan di film itu apakah scene per scene atau bisa yang mana aja dulu tergantung situasi dan kondisi

    ReplyDelete
  8. Setelah baca ini saya nggak tahu harus komen apa selain acaranya keren banget. Walaupun saya nggak tahu nama-nama yang disebutkan, tapi saya kenal beberapa karyanya. Dan ya, orang-orang dibalik karya itu sudah pasti orang-orang hebat. Beruntung sekali bisa menimba ilmu dari mereka.

    Semoga IMAC ini terus ada dari tahun ke tahun.

    ReplyDelete
  9. Kita pun bisa menjadi sutradara untuk konten sendiri ya mbak Ire.. Pastinya bermanfaat banget sharing materi yang disampaikan di IMAC Film Festival 2026 ini. Ternyata Kak Dimas ini sinematografer beberapa film Indonesia ya. (maria tanjung sari)

    ReplyDelete
  10. Ilmu yang sudah "dicuri" Kak Ire ini, ijin daku serap yak. Nggak daku ciri kok, kan udah ijin wkwkwk.
    Soalnya permasalahan kamera dan cahaya yang kurang, ini bisa diterapkan buat kita sebagai kreator konten pas lagi shoot atau take konten video.
    Ini nih asiknya ikutan acara IMAC, bisa sekalian nobar plus belajar

    ReplyDelete
  11. Seneng bgt tuh kak dpt banyak ilmu dari sineas ternama terutama kak Dimas Bagus yang filmnya booming. Sinematografinya keren. Pantesan diundang jadi narasumber di IMAC ini. Kita jadi tahu deh proses ribetnya di balik layar sebuah film. Jadi mereka ga cmn sekadar ambil gambar, tp perlu teknik yg bikin mata kita tetap adem dan tetap bertahan mantengin adegan per adegan di film. Harus roadshow nih event IMAC biar sineas lokal, terutama daerah bs tahu ilmu spt ini.

    ReplyDelete
  12. Nambah lagi insight baru, apalagi buat diriku yang emang banyak ngambil video pake ponsel nih. Diriku jadi ikut merasakan semangat "Resilience" itu. Ternyata film bukan cuma soal visual cantik, tapi soal rasa dan alasan di balik tiap gerakan kamera.
    Ahhhh jadi pengen cobain dateng ke acaranya, pasti menyenangkan sekali

    ReplyDelete
  13. Beruntung sekali kak Ire bisa belajar langsung dan menimba ilmu dari para pakar yang terlibatdi industri film seperti fotografer sekelas Dimas Bagus. Kereen bangeet memang meskipun saya gak kenal orangnya tapi saya menikmati hasil karyanya. Video klip kunto Aji itu kan bagus oh jadi gitu yaa cara bikin fotografi yang keren. Semoga acara ini bisa berkangsung lancar rutin setiap tahun terselenggara agar semangat sineas muda membuat film film pendek tetap terjaga.

    ReplyDelete
  14. Jadi ikutan ngerasain excited-nya nih selama di IMAC. Insight dari Kak Dimas soal pergerakan kamera ini juga relate banget, apalagi buat aku yang sekarang full time content creator yang masih belajar pakai alat sederhana. Bagian tema Resilience juga menarik, ternyata maknanya dalam banget. Kepengen deh ikutan acara IMAC Film Festival kalau ada lagi tahun depan.

    ReplyDelete
  15. Wah keren banget bisa belajar langsung dari pakarnya. Saya jadi kepinguin, semoga next time bisa berjodoh menimba ilmu dengan mereka, karena belajar online dengan tatap muka langsung itu vibesnya beda banget.

    ReplyDelete
  16. Ah beruntungnya bisa tahu langsung bagaimana Resilience-nya Kak Dimas sehingga menghasilkan ilm-film yang tidak akan salah kalau dinonton berkali-kali
    Bahkan setelah masuk NF pun saya tetap menontonnya dengan rasa yang sama saat di bioskop pertama kali
    Keren memang perjuangannya di industri film ini

    ReplyDelete
  17. Btw aku penasaran nih, kalimat pertama itu, kalau misal syuting siang, apa nggak malah backlight ya? Eh ini maksud aku foto sih, kalau video aku belum pernah nyoba keknya tips begini :D
    Ternyata acara IMAC ini tidak cuma nonton film, tetapi ada talkshow2 juga yaa. Cocok diikuti sama sineas2 dan juga orang2 kreatif yang mau bikin film.
    Mana dapat tips2 produksi film dari yang udah berpengalaman juga.
    Tema tahun ini "resilience" bagus banget maknanya.

    ReplyDelete
  18. Iya di Jakarta banyak acara seru dan menambah wawasan kita ya salah satunya ilmu sinematografi ini berharga banget dapat ilmu langsung dari ahlinya portofolio dia keren banget..

    ReplyDelete
  19. Kalau belajar "seni" begini memang selain mengawinkan kretivitas, juga perlu ilmu-ilmu yang nyata seperti ini. Karya meskipun dibilang karya seni, tetap yang namanya penilaian maah.. ada ilmunya kan yaa.. pakem-pakemnya hanya bisa dipelajari bagi yang beneran mengambil bidang keilmuan tersebut dan ada yang based on experience kayak mas Dimas ini..

    Seneng bacanya, ka Iree..
    Berassaa.. tuuh kaan.. makanya drakor keshayangan aku maah.. memang terbaiikk..
    Eh, film Indonesia kini keren bangeettz kek masterpice siih!!

    ReplyDelete
  20. Pas nonton SORE di bioskop, bolak balik aku ngebatin... ini DOP nya gokiill sih.
    brilian bangett pastinya

    karena di layar segede alaihim gambreng itu, dia bisa manfaatkan dgn sangat cerdas!!

    beruntung bangettt dirimu bisa kulakan ilmu dari doiii

    ReplyDelete

Post a Comment