Skip to main content

Cerita Nyeberang Singapore - Malaysia via Kereta Tanah Melayu (KTM)

Kereta Tanah Melayu (KTM) Singapore - Malaysia

Saya juga baru tahu rupanya dari Singapore ke Malaysia (tepatnya Johor Bahru) secepat itu, cuma butuh 5 menit! 

Sebenarnya ada beberapa cara untuk ke Malaysia ke Johor Bahru: via bus, taxi, mobil pribadi, kapal fery dan ada juga kereta (shuttle). Saya memilih untuk naik kereta, namanya KTM (Kereta Tanah Melayu). 

Sebenarnya akhir-akhir ini terendus kabar bahwa akan ada kereta cepat (RTS link) yang akan menghubungkan JB Sentral, Malaysia ke Woodlands North, Singapura. Tapi harus sabar karena kereta ini baru akan beroperasi per Desember 2026 ini.

Kira-kira apa ya perbedaannya? Setelah saya riset keduanya memang ada perbedaan, di antaranya dari segi teknologi, waktu tempuh, imigrasi dan lokasi stasiun.

RTS disinyalir akan menjadi pujaan karena teknologinya lebih modern, hampir sama dengan MRT atau LRT sementara KTM masih konvensional menggunakan lokomotif. Bagi para pelancong RTS akan jauh lebih memudahkan karena pemeriksaan imigrasi dilakukan sekaligus, yaitu di stasiun keberangkatan (Woodlands Checkpoint).

Nah, titik keberangkatan sendiri pun berbeda, kalau KTM dari Woodlands Checkpoint ke JB Sentral sementara kalau RTS dari stasiun Woodlands North ke Stasiun Bukit Cagar. Pendeknya, RTS akan jauh lebih mudah dan praktis karena terintegrasi langsung dengan MRT Singapore, alias tidak perlu pindah ke Woodlands Checkpoint via bus dulu.

Lupakan dulu soal RTS yang belum beroperasi itu, di sini saya ingin bercerita soal KTM karena mau tidak mau, kami masih memakai itu di perjalanan lalu. 

So, here we go! Perjalanan kami dari Chinatown Singapore menuju ke JB Sentral, sehari sebelum bulan ramadan 2026! 

Oke sebelum jalan, kami sudah memesan tiket dari aplikasi KTMB. 

Caranya cukup mudah, tinggal pilih Shuttle Train lalu pilih tanggal dan jam yang sesuai. Harga tiket untuk 2 orang sekitar 31,6 ringgit Malaysia. Kami membayarnya dengan menggunakan Qris. 

Saya sarankan untuk urusan transum semacam ini, lebih baik beli jauh-jauh waktu karena kalau sampai kehabisan tiket, itinerary bisa berantakan. 

Perjalanan dimulai dari Stasiun Maxwell. 

Kenapa dari sana? karena kami harus sampai ke Stasiun Woodlands dan berdasarkan peta MRT Singapore, untuk ke sana kami harus ambil jalur cokelat dan yang terdekat dengan hotel tempat saya menginap ya St. Maxwell. Kalau berangkat dari stasiun ini, kami tak perlu transit maupun pindah jalur.

Kami menuju ke stasiun dengan berjalan kaki karena jaraknya cuma 450 meter. Nah, ini menjadi salah satu kebiasaan saya saat traveling; memilih hotel yang dekat dengan transportasi umum. 

Perjalanan dari St. Maxwell ke Woodlands kurang lebih memakan waktu 1 jam. Sampai di Woodlands kami berpindah naik bus menuju ke Woodlands Checkpoint. 

Pemandangan sekitar dipenuhi hijau-hijauan dan apartemen (hunian). Oh, begitu rupanya pemandangan daerah pinggiranya Singapura, batin saya. 

Di sisi lain,  entah mengapa raut muka suami tampak panik, seperti ada yang salah.

“Kayaknya kita salah naik bus deh,” ujarnya.

“Hah? terus ini ke mana? Terus gimana?” balas saya ikutan panik.

“Ini ke Johor, tapi langsung, kita kan mau naik kereta,” balasnya.

“Terus gimana?”

“Lah kamu mau naik ini aja sekalian apa tetep mau naik kereta?”

Di titik itu saya sempat bingung. Lebih baik turun ganti bus atau tetap naik itu saja toh itu juga langsung menuju ke JB Sentral. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya punya keputusan.

“Turun ajalah, kan aku mau nyobain naik kereta, lagian kita dah bayar tiket juga!” kata saya penuh percaya diri.

Kalau kalian naik train tolong jangan mengantri bus yang ini, sumpah!

Iya itu padahal petunjuk sudah jelas, tapi kami hanya melihat angka 950 saja, sementara keterangan di bagian bawahnya "JB Sentral Loop" kami abaikan. Atau mungkin saat itu dipikiran kami cuma ada kata "JB Sentral" dan lupa kalau naiknya harus dari Woodlands Checkpoint? entahlah.

Akhirnya kami turun di halte terdekat dan menunggu bus yang menuju ke Woodlands Checkpoint. Jujur saya lupa busnya nomor berapa, coba pembaca sekalian cek Google aja ya, hehe. Kalau ragu, saya sarankan tanya orang atau petugas sih, daripada nyasar. Ya, kalau waktunya masih banyak mending, tapi kalau mepet keberangkatan kan sayang kalau tiketnya hangus.

Sampai di Woodlands Checkpoint kami berjalan mengikuti arah petunjuk menuju ke ticketing office. Seorang petugas menyuruh kami naik ke lantai 2.  Sudah ada antrian panjang ketika kami datang. Tanpa berpikir panjang, kami pun buru-buru ikut mengantri.

Setelah mengantri lumayan lama tibalah giliran kami dicek oleh petugas. Ternyata oh ternyata, kereta kami masih lama sementara antrian tadi adalah untuk kereta sebelum kereta kami. Duh gusti, mana sudah mengantri panjang dalam kondisi panas plus barang bawaan yang tidak sedikit pula! 

Si petugas menyuruh kami menunggu sampai antrian kereta berikutnya dibuka. Dengan lunglai kami berjalan menuju tempat duduk yang berjejer di pojokan. Kami bawa muka pasrah kami yang tak mampu disembunyikan.

Ya, kami menunggu kurang lebih selama satu jam (atau mungkin lebih). Saya menghabiskan waktu dengan memakan moci yang kami beli dari Chinatown sementara suami lebih banyak bermain HP.

Pukul 12 lebih antrian kembali dibuka. Setelah mengecek tiket yang kami beli secara online, kami berjalan (lumayan jauh) menuju ke bagian Imigrasi. 

Jadi kami mengalami cek imigrasi 2 kali di Woodlands Checkpoint ini. Pertama cek dari bagian Singapore melalui mesin scan otomatis dan kedua, pengecekan dari Malaysia, yang masih manual alias dilakukan oleh petugas.

Petugas yang mengecek saya seorang perempuan, ia bertanya kapan saya akan pulang ke Indonesia. Rupanya ia juga menanyakan hal yang sama pada suami. 

Si petugas bahkan bilang, “jadwal pulangnya sama dengan perempuan tadi?” Suami menjawab, “Iya itu istri saya.” Kami pun lolos di bagian imigrasi dan langsung menuju ke kereta. Syukurlah tak ada drama ditahan imigrasi seperti perjalanan beberapa tahun silam. huft.

Kereta Tanah Melayu punya wajah yang sedikit sayu. Mungkin karena warna kursinya atau bahannya yang dari beludru. Kereta ini terlihat sederhana dan seperti kereta api pada umumnya. Ada meja lipat yang bisa dipakai. Entah apa fungsinya, secara, perjalanan penyeberangan cuma butuh waktu 5 menit lho!?

Bagian dalam Kereta Tanah Melayu (KTM) Singapore- Malay  

Kalau dipakai untuk kerja sepertinya juga tidak mungkin. Ah, mungkin saya yang kebanyakan overthinking. Bisa saja itu kereta bekas dan sudah bawaan dari sononya, kan?

Kereta kami membelah laut yang memisahkan daratan Singapura dengan Malaysia. Beberapa bangunan tinggi mulai terlihat. Itu berarti kami hampir sampai di Johor Bahru. Mall yang sedang viral karena eskalatornya juga terlihat, meski hanya fasadnya saja.

View dari dalam kereta, terlihat mall viral R&F 

Pukul 12.53 kami sampai di JB Sentral. Itulah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di negeri Jiran. Saya pikir tadinya akan ada pemeriksaan lagi tapi ternyata tidak. Kami melangkah keluar dan berkeliling, melihat apa-apa saja yang ada di sana dan mengintip berapa kira-kira harga makanan di sana.

Suasana tenant makanan di JB Sentral

Awalnya kami mau makan dulu tapi niat itu kami urungkan. Lebih baik menuju hotel sesegera mungkin, bukan? 

Jb Sentral

Saya sudah memilih lokasi hotel yang bisa dijangkau dengan jalan kaki. Kami hanya butuh keluar lalu menyeberang jalan, melewati sebuah pusat berbelanjaan, belok kanan dan sampai. 

Kami akhirnya berhasil check in (meski dengan sedikit drama). Cerita soal hotel di Johor ini akan saya ceritakan di part selanjutnya yak :)


Hai, saya Ire. Bagi saya hidup adalah lifelong learning, pembelajaran yang tiada akhir. Melalui blog ini mari sama-sama belajar sembari sesekali bercerita mengenai kisah perjalanan hidup yang sudah saya lewati :)

Comments

  1. Memang kalo lagi ngetrip backpacker style, sebaiknya cari penginapan yang dekat stasiun, ya
    Supaya makin praktis dan (ini yang terpenting) budget bisa ditekan.
    soalnya daku pun begituuuu
    seruuu ih, kalo baca cerita trip series ala kak Irero ini!

    ReplyDelete
  2. Aku kalo urusan pergi2 gini tipe yang pasrah sama suami mbaa apalagi kalo ke luar negeri agak lola ini mikir rute2 transum yang kadang bejibun banyak...dan biasanya suami memamng memilih lokasi hotel yang dekat dengan transum untuk memudahkan mobilisasi kami karena selama bepergian akan lebih banyak menggunakan transum terutama LRT ato MRT ini

    ReplyDelete
  3. Naik kereta nya cuma 5 menit, sebentar bangeeettt, nunggu Keretanya yang lama satu jam lebih, kalo saya yang di situnya kebayang udah bete banget pastinya, tapi walaupun begitu kalo niatnya kita mau travelling pasti happy happy aja.
    Saya salut fasilitas transportasi nya lengkap walaupun cuma buat nyebrang aja banyak pilihannya bisa pake beberapa midw transportasi.

    ReplyDelete
  4. Aku malah ngira keretanya pake gerbong ala-ala KRL gitu mbak, yang penumpangnya mayoritas berdiri, bukan duduk. Soalnya yaaa... cuma lima menit doang, hihih. Jangankan ngomongin meja lipat, ada kursi yang menghadap ke depan aja aku pun sudah bertanya-tanya buat apa, hihihi.

    meski begitu, kalau ku lihat sekilas secara interiornya cukup rapi dan bersih ya mbak. Minus suasana aja agak sendu, mungkin efek beludru dan pilihan warna yang agak sayu.
    Jika ada kesempatan ke negeri seberang, rasanya ku pun mau coba naik Kereta disana juga mbak.

    ReplyDelete
  5. Mantap ya naik keretanya cuma 5 menit. Eh tapi urusan imigrasinya gimana kaalau dari Singapore ke Malaysia?
    Nunggu tulisan selanjutnya ahh.

    ReplyDelete
  6. Elah. Naik kereta cuma 5 menit doang kek berasa kedip doang udah nyampek. Sedekat itu ya Singapore-Malaysia tuh kalau naik kereta.

    Pertanyaan standart keimigrasianlah ya, Kak. Kapan balik ke negaranya? Hehehe...

    ReplyDelete
  7. Masya Allah, perjalannya sangat singkat ya lima menit saja. Lebih lama menunggu keberangkatan kereta karena sampai satu jam. Kalau saya harus bawa kawan berarti karena rawan nyasar, apalagi kalau di tempat baru. Di tunggu cerita selanjkutnya ya Kak...

    ReplyDelete
  8. Kalau jalan-jalan ke negeri orang, memang butuh fokus tinggi ya, Mbak Ire. Karena meleng dikit bisa butuh ekstra waktu dan tenaga lagi. Saking panik, jadi malah ikut antri jadwal kereta di depan jadwal kereta yang akan dinaiki. Padahal cusss.. nyebrangnya hanya 5 menit. Tapi ini jadi pengalaman berharga. Pastinya jadi bisa dibagikan ke teman-teman lainnya.

    ReplyDelete
  9. Kereta Tanah Melayu ini mesti dicoba kalau ke sana ya. Meski interiornya tampak sederhana, tetap saja bikin penasaran apalagi perjalanan super kilat hanya 5 menit sampai. Amazing sih ini.

    Bener sih, memilih hotel yang dekat sama transportasi umum, adalah salah satu jalan ninja yang mempermudah proses dari satu perjalanan ke perjalanan berikutnya dan lebih hemat juga secara budget. Bisa diambil hikmah dan pembelajaran berharga untuk lebih teliti agar tidak salah naik transportasi dan mesti siap ambil keputusan cepat. Meski ujung-ujungnya nunggu dulu ya karena rupanya jadwal kereta masih lama heheheee.

    ReplyDelete
  10. Kereta lintas negara cuma 5 menit? Ah, dekat kali ini Singapura dan Malaysia. Jadi penasaran pengen nyoba juga.
    Kak Ire dan suami juga unik waktu jalan-jalannya, sebelum Ramadhan, ya. Kalau di Indonesia kan sehari sebelum Ramadhan pada sibuk nyiapin menu puasa pertama, eh Kak Ire asyik jalan-jalan. mantap

    ReplyDelete
  11. Paling ga nyaman ya ketika sudah ngantre, eh panas²an pula tetiba "keretanya yang selanjutnya ya", beuh... Kalo ada es batu mau itu diserut terus diseruput plus kasih potongan roti, tape, keta item, sama sirup dan SKM, jadi dah es doger biar pikiran lebih dingin hehe.
    Drama dalam perjalanan suka ada aja ya Kak. Padahal timbang nyebrang 5 menit doang kan... Padahal.. Padahal...
    Syukurlah bisa dilalui dengan aman.

    ReplyDelete
  12. Wah terima kasih sekali untuk pengalamannya dibagikan di sini karena ini adalah salah satu Pengalaman naik kereta yang saya coba tapi sampai sekarang belum sempat dilaksanakan karena biasanya kalau keluar dari Singapura saya biasa penumpang pesawat terbang sehingga belum pernah mencoba Naik Kereta Api semoga suatu saat nanti bisa terwujud

    ReplyDelete
  13. Untung keretanya masih lama mbak, jadi masih keburu balik ke stasiun hihihi. Kalau nggak keburu mending bablas :D
    Iya yaa, jarak Johor Baru dan Singapura sedekat itu. Dulu pas lewat jalan apa yaa, pokoknya dekat 0 kilometernya, ditunjukkin sama guide kalau di seberang ada jembatan yang menghubungkan Johor Bahru dan Singapura. Tak heran banyak orang kerja di Singapura, tinggal di Johor Baru supaya lebih murah. Waktu itu dikasi tahu naik bus aja, eh sekarang ada keretanya, manteb yaa. Hihi tapi soal kereta, desain interior kereta kita layak disombongin nih kyknya ya =))

    ReplyDelete
  14. Aku baru tahu kalau dari Singapura ke Malaysia bisa naik kereta. Walaupun kagok banget ya cuma 5 menit. Kayanya baru duduk udah berdiri lagi hahaha...

    Yang terkesan jadul kayanya pemilihan warna kursi ya.

    Btw kalau langsung naik bus yang awal, berapa menit mbak sampai Johor?

    ReplyDelete
  15. Cerita drama salah naik bus dan salah antre kereta itu emang sering kejadian sih kaaak hahaha, tipe-tipe panik tapi seru khas traveling.
    Untungnye Kakak tetap teguh pendirian buat turun dan pilih naik kereta, jadi bisa merasakan pengalaman ikonik 5 menit menyeberang selat pakai KTM sebelum nanti digantikan RTS akhir tahun ini.
    pasti ada kepuasan tersendiri yang ngga bisa didapatkan sembarangan dan diulang

    ReplyDelete
  16. Naah ini dia kereta api adalah pilihan seru untuk transportasi. Meski satu perjalanan tapi harus melalui cek² imigrasi 2x , Singapura dan Malaysia. Perjalanan darat melintasi 2 negara seperti ini saya pernah alami juga tapi naik bis. Saat itu perjalanan dari Prague menuju Viena...petugasnya naik ke bis saat kami melewati perbatasan.

    Banyak pengalaman ya mbak traveling di negeri orang. Kita belajar kebiasaan dan budaya mereka. Dan jadi paham bagaimana sebaiknya mengantri dan mau cek in...meski jadi harus ngantri dua kali dan cek imigrasi 2 kali tapi kan jadi tau bagaimana seharusnya.

    ReplyDelete
  17. Drama perjalanan ini yang bikin unik saat traveling. Cerita salah jurusan naik bus atau hal remeh temeh lainnya bakal menjadi cerita unik yang melengkapi perjalanan kita.

    Termasuk saat singgah ke Negeri Jiran yang lgsg bs tembus ke Singapura naik KTM. Yg aku salut, itu hanya 5 menit loh. Berapa panjang ya rutenya?

    Ini kalo ada perbandingan jarak dan waktu saat naik kendaraan darat, kapal laut/ferry atau bahkan bus, akan lbh menarik. Apalagi kalo dibandingkan dgn saat ada RTS nanti.

    Ditunggu cerita selanjutnya ya kak. Terutama saat RTS nanti resmi beroperasi.

    ReplyDelete
  18. Iyayaa.. cuma sekedipan mata, mashaAllah..
    Jadi ovt karena ada banyak hal di kereta yang jadi pertanyaan "Buat apa?"
    Ketiduran apa dibawa balik sama si kereta??
    Hehehe.. bissiii.. bisi ada yang ketiduran karena kelelahan.

    ReplyDelete
  19. Pengalaman tak terlupakan kalau traveling apalagi ke Singapura dan Malaysia
    Kalau kata Kang Aip, ini dua dari tiga negara wajib buat traveler pemula
    Aaah jadi pengen kan
    Nanti kalau aku nyeberang juga harus baca artikel ini dulu lagi supaya khatam dan gak nyasar, hehe
    Ditunggu cerita hotelnya yaa

    ReplyDelete
  20. Penginapan dekat stasiun atau public transportasi memudahkan backpacker ya mbak, jadi ga perlu bingung untuk transportasi setidaknya sedikit hemat ga bolak balik sambung atau ganti kendaraan, pengalaman yang menarik nih mbak secara akupun belum pernah

    ReplyDelete

Post a Comment