Hari ketika kami harus pindah ke Johor itu terasa ogah-ogahan. Rasanya masih pengen stay lama di negeri Singa. Mungkin karena selama ini saya suka sekali dengan Singapura dan segala keteraturannya. Terlebih beberapa waktu sebelumnya kami di Bugis Street dan melihat seorang nenek-nenek menggunakan kursi roda elektrik.
Ia mengendalikan sendiri kursi itu tanpa pendamping. Tak ada drama atau masalah, artinya kota ini ramah dan aman sekali untuk lansia. Kami membayangkan menua di sana, meski untuk itu kami sejenak melupakan soal biaya-biaya :(
Kami tiba di Johor Bahru Sentral sekitar tengah hari. Bermodalkan Google map, kami keluar dari dengan melewati kawasan pusat perbelanjaan. Sekilas saya melirik harga baju-baju yang dijual di sana. Woh, mahal untuk ukuran saya. Entah karena itu tempat yang lumayan elit atau memang harga-harga di Johor masih terbawa oleh negara sebelahnya.
Kami menyeberangi jalan Tun Abdul Razak, menembus City Square Pick, menyeberangi jalan Wong Ah Fook untuk menuju ke hotel kami, Attrus Bed.
Di City Square kami sempat jadi perhatian satpam karena membawa ransel punggung berukuran raksasa. Saya mencoba menjelaskan bahwa kami perlu menyeberang dan menuju ke jalan Trus. Ia lalu membantu kami dan menunjukkan arah.
Menginap di hostel Attrus Bed & Breakfast
![]() |
| Hostel ketika malam |
Saat traveling saya dan suami suka membagi tugas, ia berurusan dengan transportasi dan telekomunikasi sementara aku itinerary, mulai dari lokasi mana saja yang mau disinggahi, makan hingga penginapan. Sayalah yang memilih dan mem-booking hostel kami. Ya meski sedikit menyesal setelahnya.
Seperti halnya ketika booking hotel di Singapura, saya memakai sistem filter "paling murah dan paling dekat dengan transportasi". Keluarlah nama Attrus Bed & Breakfast yang jaraknya hanya 450 meter jika ditempuh dengan berjalan kaki dari JB sentral. Murah memang, kami hanya membayar sekitar 600 ribuan untuk 2 malam.
![]() |
| Kamar di hotel Attrus |
Tentu harga tersebut jauh lebih murah dibanding harga hostel di Chinatown Singapura yang per malamnya bisa mencapai 750 ribu rupiah. Attrus sendiri punya sedikit bed per kamar. Hanya ada 4 double bed di kamar kami, berbeda hal dengan di Singapura yang per room bisa sampai 8 hingga 10 bed.
Bukankah harusnya lebih tenang dan nyaman? Iya, tapi entah mengapa saya merasa tidak begitu. Saya merasa lebih aman di Singapura dibanding di Johor. Ya mungkin karena itu pertama kalinya saya berkenalan dengan Johor.
Hostel ini punya beberapa fasilitas yang cukup membantu seperti contohnya hair dryer, setrika uap, air minum isi ulang dan water heater. Ya tidak banyak hostel yang menyediakan setrika uap, dan karena saat itu Johor sering hujan, hal ini jadi sedikit membantu.
![]() |
| Tempat untuk setrika |
Oh ya sebelum masuk ke hotel kami sempat salah masuk. Kami menemukan akses pintu yang langsung menuju ke room dalam posisi tidak dikunci. Kami mengira itu adalah pintu untuk menuju lobby utama tapi setelah naik beberapa lantai ternyata kami tak kunjung menemukan lobby.
Saya memutuskan untuk bertanya kepada salah satu penghuni dan dia menyarankan saya untuk turun dengan lift ke lantai dasar dan keluar melalui pintu sebelah kanan.
![]() |
| Ruang tunggu di depan kamar-kamar |
Suami menunggu di lantai 3 sementara saya menuju ke lobby seorang diri. Di lobby saya kena marah petugas. Katanya : siapa yang memberi kami akses masuk hingga lantai atas? Saya pun bercerita kalau pintu yang kami temukan tidak dikunci, jadi ya kami masuk saja!
Rupanya dari tadi si Mbak-mbak resepsionis memperhatikan kami dari CCTV. Ya, bukan salah kami juga, karena tak menemukan pintu utama hotel dan malah nemu akses pintu lain dalam kondisi terbuka, kan?
Dari situlah si Mbak resepsionis menjadi kurang ramah.
Hotel kami bergandengan dengan Kopi Tiam tapi karena kami ingin mencoba makan di daerah luar akhirnya sampai hari terakhir di Johor kami sama sekali tak makan di sana.
Malamnya saya tak bisa tidur.
Sementara itu lewat tengah malam, seseorang masuk ke dalam kamar. Mungkin orang tersebut baru check in. Jujur saya tambah tak bisa tidur, takut kenapa-kenapa. Sebelum orang tersebut datang, tak ada pengunjung lain selain kami.
Awalnya kami girang, kami bebas keluar masuk sesuka hati dan saya bebas berkeliaran tanpa jilbab. Tapi ternyata satu demi satu kamar itu mulai terisi. Hari berikutnya seorang Bapak-bapak dan anaknya mengisi kamar bagian bawah. Akhirnya ruangan kami terisi 75%.
Hostel kapsul kami berbeda dengan modelan Bobopod yang punya pintu masing-masing. Di sini setiap kamar hanya ditutup tirai ala-ala roller blind. Mungkin justru karena di Singapore jumlahnya banyak jadi kami merasa aman sementara di sini lebih senyap, tapi vibesnya beda.
Meski begitu ada hal-hal baik dari hostel ini, salah satunya common area yang cukup nyaman. Mereka menyuguhkan beberapa tipe tempat duduk. Model ala pekerja atau model sofa yang cukup empuk.
![]() |
| Salah satu kursi di common area |
![]() |
| Working space di Common Area |
Kami memakainya untuk buka puasa pertama ramadan pasca berburu takjil dari Bazar Larkin.
Satu hal yang saya kurang suka dari hostel ini adalah toiletnya. Mereka punya toilet jongkok tapi jambannya rendah dan pintu bagian bawahnya terpotong. Jadi nih misal ada orang melongokkan kepalanya, langsung deh keliatan semua-semuanya.
Saya tak nyaman pup-pup dengan model seperti itu tapi bagaimanapun tetap harus memakai itu. Akhirnya saya akali dengan pup-pup di toilet yang paling jauh dari pintu utama.
![]() |
| Toilet di hostel Attrus |
Di sinilah saya dan suami mulai pertengkaran kecil. Ia menanyakan mengapa saya memilih hostel, sementara setelah ia cek Google, ada hotel dengan harga cukup murah. Hanya berbeda 100 hingga 200 ribu rupiah. Saat itulah saya merasa menyesal telah mem-booking hostel di sana.
Saya mencoba menjelaskan bahwa saya hanya memakai filter paling murah dan paling dekat, yah meski di cek suami ada hotel yang juga murah dan dekat dari JB Sentral.
Eh tunggu, saya memilih hostel ini juga karena di Google gambarnya cukup bagus, dan bed-nya juga besar. Saya mencoba ngeles.
“Bisa nggak kita besok aja ke KLnya?” saya ngedumel karena kami masih harus di sana selama 2 hari.
“Bisa aja, masalahnya tiket kereta belum tentu ada!”
“Pindah hotel aja gimana?” rengek saya.
“Boleh, serius mau pindah?” tanyanya.
“Kalau malam ini terjadi apa-apa besok kita pindah deh.”
Ternyata pagi-pagi kami masih hidup dan bernapas. Yah mungkin saya lebih banyak merasa parno saja di hostel ini. Sebenarnya mungkin bagi traveler lain hostel ini nyaman-nyaman saja, lebih-lebih mereka yang sudah menjajaki negara lain dengan berbagai kondisi. Mungkin saya saja yang pengalamannya masih cupu. Ya entahlah.
Pagi-pagi sekali kami bangun untuk sahur. Beruntungnya ada restoran 24 jam di dekat hostel. Hanya butuh berjalan kaki sebentar dan sampai. Soal sahur pertama di Johor ini sudah pernah saya tulis di Kompasiana. Silakan klik buat yang mau baca ya!
![]() |
| Tempat kami sahur |
Setelah menyelesaikan sahur kami kembali ke hostel dan kembali beristirahat. Jadwal kami di hari ke dua adalah ke BookXcess di Sunway JB dan sorenya berburu takjil di Bazar Larkin. Oh ya kami juga sempat berjalan-jalan sore di hari pertama tiba di JB. Soal itu pernah saya tulis juga di Kompasiana. Silakan baca-baca ya :)









Memang kekurangan hostel itu ya dari sisi privacynya ya mbak. Meski murah. tapi jadinya berasa parno banget. Mau gimanapun, berbagi ruangan dengan orang yang tidak kita kenal sama sekali itu pasti lah ada rasa nggak nyaman sama sekali.
ReplyDeleteMakanya kalo ada bobobox sih, mending bobobox mbak. Lebih nyaman, meski memang sedikit agak sempit.
Aku pun satu hari nanti, pengen rasanya coba melipir ke Singapura dan daerah di sekitarnya. Yah, sementara deket rumah dulu. Kelak nanti, niscaya ku akan jalan lebih jauh lagi :)
Waaah mba, salut aja nginep di dorm begitu 😅😅😅. Seumur2 aku traveling, ga pernah booking dorm, pasti selalu private room Krn memang ga tertarik sharing kamar dengan orang yg aku ga kenal. Apalagi kalau kamar mandi di luar 😅. Ga nyaman.
ReplyDeletePadahal di semua states di Malaysia hotel2 cendrung ga mahal, JD rasa2nya milih private room msh okelaah .
Johor itu kota yg aku suka banget, Krn kulinernya enak2. Juni kemarin dari sana, kebetulan ada temen blogger Malaysia yg jadi guide. Jadi nyobain Macam2 kuliner jagoannya JB 😄. Saking sukanya, Desember besok aku ke JB lagi utk seminggu, dan seminggu lagi di KL dan Terengganu . Tp stay di apartment, Krn ajak anak dan suami. So, biar bisa nyuci baju di apartemen nya 😄.
Semoga nanti keduakalinya ke Johor, bisa ngerasain pengalaman yg lebih nyaman yaa 😉
Aku belum pernah mbak nginep di hostel. Apa seperti guest house ya? Tapi kalau lubang kamar mandinya sebesar itu (lihat gambar) aku juga pasti nggak mau. Pasti minta paksu buat menemani, meski itu toilet perempuan sekali pun ya. Kayak nggak nyaman juga.. :(
ReplyDeleteAku pas lihat gambar, kaget banget ada nama Rumah Tumpangan. Unik banget istilahnya.. :D
Aku juga pasti akan minta pindah sih kalau lihat kamar mandinya kayak gitu mbak. Meski kamarnya enak dan comfort sekalipun. :(
Begitulah kalau tidur memilih kamar bersama. Banyak risiko walaupun di negara tertentu tetap aman dan terbiasa
ReplyDeleteKalau saja di perkampungan sini, mending milih tidur di masjid saja. Haha... Iya, saya dan suami kalau bepergian masih seputar Jawa Barat sini kalau kemalaman cari masjid aja. Hihi...
Emang nggak nyaman sih hotel type yang satu kamar rame-rame dan hanya dipisahin sekat-sekat begitu.
ReplyDeleteAkhirnya jadi pindah nggak, Kak? Kalau aku, mungkin akan pindah kalau ada opsi hotel murah yang lain. Hehehe...
Namanya juga tertipu penampakan di media ya. Kenyataannya malah bikin parno.
Penginapannya menurut daku ga banget Kak. Tapi ini jadi pelajaran sih, mendingan mah yang privat room atau yang hotel beneran bukan hostel, karena fasilitas buat privasinya lebih oke ya dan tentunya pelayanannya lebih ramah, ketimbang dijudesin gitu huuhu
ReplyDeletePindah dari Singapura yang super tertata ke Johor emang bikin shock culture kecil ya. Apalagi pas insiden salah masuk pintu terus disemprot resepsionis, wah itu jujur auto bikin mood drop dan makin parno sepanjang malam.
ReplyDeleteTapi relatable banget sih bagian filter hostel "termurah dan terdekat" pas booking, eh giliran nyampe lokasi baru kerasa menyesalnya. Untung ada setrika uap dan common area-nya nyaman ya! Pengalaman seru sekaligus pelajaran pas traveling bareng suami.
jadinya batal pindah hotelkah, mbak? Namanya traveling pasti ada aja hal yang tak terduga ya termasuk salah pilih hotel dan pastinya jadi cerita tersendiri yang bisa selalu dikenang. Entah kapan nih diriku bisa jalan-jalan ke Malaysia dan menikmati wisata di sana semoga nanti ada rezekinya
ReplyDeleteKak Iree..kebetulan banget yaa traveling yang harusnya menyenangkan dan memberi kenangan manis eh gak rejekinya dapat hostel yang kurang menyenangkan. Yang paling enggak banget tuh toiletnya dan petugas hotel yang matah marah yaaa...aduuuh koq gitu amat memperlakukan tamu. Tapiii jadi punya pengalaman berbeda yang bisa diceritakan yaa..gak melulu tentang sebuah kesan manis tapi juga kenangan pait..pait..hehe....
ReplyDeleteHostel Attrus Bed & Breakfast ini mirip sama yang pernah kita nginap di Bandung bukan sih? Kalau di Bandung meski dikasih tirai aja setiap ranjang, tapi kita bisa pesan yang khusus perempuan kan.
ReplyDeleteDuh, kesanpertama masuk ke area hotelnya aja udah nggak nyaman, gara-gara langsung masuk dan ke atas malah kena omel dan resepsionis jadi agak judes ya.
Kadang, namanya travelling itu ada aja bumbu drama nya. Ikut lega, ternyata malam pertama nginap di
hostel Attrus Bed & Breakfast, aman. Syukurlah. Setelah nginap semalam, jadilah pindah hotelnya? Check out jam berapa? Soalnya agenda berikutnya kan explore beberapa tempat termasuk toko buku kece.
aku baru sekali nginep di Hostel, tepatnya pas traveling di San Francisco .
ReplyDeleteKarena cukup parno kudu tidur ama strangers, aku sampai harus minta rekomendasi ke temanku yg sedang kuliah di Amrik.
Jadi, filternya dari "orang beneran" bukan hasil googling semata :-)
Memang, rasanya gimana yhaaa, agak dag dig dug dhuerrr, tapi untunglah karena kamar hostel waktu itu ladies only, jadi agak berkurang sih parno-nya.
Dgn harga murah, tentu ada fasilitas yg dikorbankan ya mbak. Harus paham kondisi itu. Kadang kita udh cek di google bagus ternyata di lokasi malah tdk sesuai harapan. Tp itulah keunikan travelling. Cerita spt ini malah jd hal seru utk diceritakan.
ReplyDeleteAnehnya di situ apa tdk ada lobby di halaman depan? Masa lgsg kamar sih? Jujur aku bingung nalarnya. Apa itu terkoneksi dgn gedung lain ya? Makanya disuruh ke lantai dasar dulu utk ktmu lobby.
Tp untungnya semua baik2 aja ya kak. Meski sempat waswas pas di kamar atau di toilet.
Aku baca ini kebayang sih betapa nggak nyamannya. Aku sendiri belum pernah nginap hostel. Ya itu tadi, takut aja pas tidur, terus ada orang asing masuk. Berasa parno sendiri ya. Apalagi ini ditambah kmaar mandinya kurang nyaman dan dari awal dijutekin resepsionis. Wajar sih mbak kalau bete 😅
ReplyDeleteTerkadang memang pilihan kita dalam memilih Hotel ataupun Hotel tidak sesuai dengan ekspektasi ataupun gambar yang ada di sana cuman memang kalau hostel itu soal privasi adalah nomor sekian karena dari segi harga yang murah membuatnya lebih menarik dan kalau tidak nyaman ya sebaiknya pindah mencari yang lebih nyaman
ReplyDeleteSeru banget baca ceritanya, Mbak Ire. Jujur saya ikut nahan napas pas bagian salah masuk pintu terus ditegur resepsionis, soalnya jadi membayangkan, andai saya yang di poisis itu pasti langsung jadi canggung dan bad mood seharian.
ReplyDeleteSoal rasa parno itu wajar banget, kok. Transisi dari Singapura yang serba tertib dan sistemnya ketat ke tempat baru memang sering bikin kita lebih waspada dan sensitif sama sekitar. Apalagi model sekatnya hanya roller blind dan pintu toiletnya agak terbuka di bawah, wajar kalau rasanya kurang nyaman untuk privasi. Tapi traveling berdua begini seru sekali lho ya selalu ada hal lucu dan seru. Ditunggu cerita seeru selanjutnya ya Mba, sehat-sehat dan tetap semangat.
sebenernya aku sendiri penasaran dengan Johor Bahru, tapi juga nggak sedikit cerita tentang "ketidakamanan" di Johor Bahru, jadi aku maju mundur buat explore sana. Mungkin kalau cuman buat transit yang hanya beberapa jam masih bisa aku pertimbangkan
ReplyDeleteaku juga kayak udah kedistract sama Singapore, meskipun tinggal di hostel tapi masih berasa rame gitu dan aman. Nggak lain memang karena Singapore ketat akan aturan juga
sayang sekali toiletnya ya mbak, sebenernya oke-oke aja, cuman perkara toilet jongkok jadi nggak nyaman
Aduh Mba Ireee, daku baca judulnya aja udah ikut parno duluan 😂 Apalagi tau kalau hostel udah bikin susah tidur dan kepikiran macem-macem. Jadi penasaran pengalaman apa lagi sampai bisa sehoror itu. Ini pengingat buat aku juga kalau pilih penginapan jangan cuma lihat harga murah, tapi review dan suasana tempatnya wajib dicek dulu ya mbaaa
ReplyDeleteLha kirain ada pintu buat menjaga privasi ternyata barengan sama tamu lain ya mbak?
ReplyDeleteIya sih kurang nyaman buat cewek kalau begitu yaa.
Untungnya harganya miring dan untuk fasilitas standar masih mayan yaa. Cuma emang buat pintu kamar dan toiletnya nggak banget ya hehe. kek nanggung gitu.
Lha resepsionisnya jadi nggak ramha gitu, padahal bukan salah tamu, siapa tahu dia sendiri yang lupa mengunci pintu ya. Galakin balik aja mestinya sih haha :D
Ternyata memang gak sepenuhnya bisa percaya betul gambar di internet atau Google
ReplyDeleteSebab aslinya kadang sudah jauh beda
Bisa jadi difoto pas masih baru baru dibangun
Setelah bertahun tahun jadi berubah tapi ga diupdate
Aku rasa ini bisa jadi pengalaman seru yaah..
ReplyDeleteKarena gak semua travelling harus dengan cerita yang sempurna... ketidaksempurnaan bisa menjadi kisah manis di kemudian hari.
Hehehe.. aku seneng banget bisa punya pengalaman share house kayak hostel begini.. berasaaa ketemu banyak wisatawan yang juga punya kisah mereka masing-masing.
Pengalaman yang berharga, ga selamanya memang travelling entah untuk dinas maupun berlibur sesuai dengan harapan, setidaknya bisa dijadikan pelajaran untuk traveling berikutnya
ReplyDeleteSaya belum pernah menginap di dorm mbak, jadi belum bisa membayangkan, berbagi kamar dengan orang asing, karena seringnya kan saya pergi satu paket seperti rombongan sirkus wkwkwk, lengkap bareng mama dan kiddos. Jadi lebih sering sewa yang family room
ini jadi pembelajaran agar lebih berhati-hati saat memilih hotel, karena ruang pribadi adalah hal yang mutlak ada agar kenyamanan tetap paling dominan. ingat bukan sekedar murah, tapi juga menjadi standar pilihan banyak orang. untung melipir bersama keluarga dan pasangan meski terkadang ada romansa pertengkaran.
ReplyDelete