Skip to main content

Cerita 4 Blogger, Bertemu di Tugu Jogja, Berkebaya di Malioboro

Sewa kebaya di Malioboro bikin ketagihan! Serius, saya sampai 2 kali mencobanya. Awalnya saya dan Latipah Rahman (Lala) memang berniat memakai jasa foto kebaya di Malioboro. 

Menurut kami, waktu terbaik untuk melakukannya tentu di pagi hari. Saat wajah kami masih fresh pasca beradu dengan facial foam, bedak dan gincu. Saat itu peluh belum turun dan energi kami masih di angka 100%. 

Sayangnya kami tak cukup sabar menanti saat itu tiba. Sore di hari pertama tiba di Jogja, kami dengan entengnya memutuskan untuk melakukannya. Tidak dengan kondisi tubuh fresh (tentu saja)  tapi tubuh penuh keringat dan muka acak-acakan. 

Tiba-tiba saja kami menjadi tidak sabaran dan mengambil salah satu paket dari sales yang kami temui di jalan. Ya, kisah kami yang merasa anggun dan cantik memakai kebaya itu itu sudah saya tulis di blog sebelah. Di sini saya hanya ingin meneruskan ceritanya.

Jadwal hari kedua kami di Jogja salah satunya adalah bertemu kawan blogger. Ada Kak Nik Sukacita dan Mbak Eryka yang harus kami temui. Mbak Eryka datang jauh-jauh dari Solo naik Commuter line. Saya terharu mendengarnya. Meski terlihat simple tapi perjalanan Solo - Jogja cukup memakan waktu, terlebih jika rumah beliau jauh dari stasiun.

Kami memilih bertemu di salah satu cafe tak jauh dari tugu Jogja, lebih tepatnya di depan tugu Jogja. Persis. Namanya Kebon Dalem Coffe & Eatery. Lokasinya cukup strategis karena tidak terlalu jauh dari Stasiun Tugu atau hanya sekitar 1,5 km jika ditempuh dengan berjalan kaki. 

Ya tentu saja, siapa juga mau berjalan kaki sejauh itu?? Kami. Ternyata kami melakukannya. Bagaimana cerita lengkapnya, tunggu sampai cerita saya sampai ke bagian itu.

Unfortunately saya tidak bisa datang tepat waktu karena masih ada urusan yang harus diselesaikan. Jadilah saya datang 1 jam setelahnya. Entah apa yang mereka bahas selama 1 jam itu. Bisa jadi rumus nuklir, program MBG, Epstein File…eh belum booming ya?! Saya bercanda.  Tentu saja dan saya yakin mereka saling beramah tamah dan bertukar kabar.

Saya datang dengan sedikit tergesa. Snack dan minuman yang mereka pesan sudah terlihat berkurang. Saya memesan Strawberry Mojito sementara di meja sudah terhidang sisa nasi bakar ayam kemangi, ice caffe latte, hot piccolo, pisang goreng aroma, banana split serta healthy infused water. Banyak juga pesanannya, hehe.



Mereka terlihat bersabar menunggu saya menghabiskan si Mojito sembari berbincang ringan. Sudah lama saya tak bertemu Kak Nik. Mungkin sekitar setahun, sementara itu pertama kalinya saya bertemu Mbak Eryka. Biasanya kami hanya bertukar sama melalui kolom komentar di blog.

Wajah Kak Nik terlihat lebih cerah dibanding terakhir kali kami bertemu. Sepertinya tinggal sementara di Jogja menumbuhkan banyak kebahagiaan. Btw, sebenarnya ini sudah terjadi bulan lalu dan saya tidak bisa mengingat detail pembicaraan kami.

Saya dan Lala bercerita mengenai hal-hal yang sudah kami lakukan di Jogja, salah satunya berfoto dengan kebaya di Malioboro. Mendengar itu, Kak Nik terlihat antusias. Saya menambahkan minyak di tengah kobaran rasa penasarannya. 

Berfoto bersama dengan kebaya di Malioboro bukan ide buruk, mengapa kita tidak coba melakukannya? Kak Nik berantusias. Mbak Eryka bimbang. Lala tidak keberatan. 

Dalam benak Mbak Eryka ia tak punya banyak waktu, harus mengejar kereta sebelum pukul 18.00. Sementara saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Tapi kami memaksanya dan berjanji bahwa semua akan berjalan cepat. Kami pastikan dia tidak akan ketinggalan kereta! Ya Allah, ampunilah dosa kami!

Saya dan Mbak Eryka mengendarai motor menuju Malioboro sementara Kak Nik dan Lala memilih berjalan kaki. Kami tidak memakai jasa yang sebelumnya saya dan Lala pakai. Kami sepakat menjajal jasa lain yang lokasinya lebih dekat dengan parkiran motor.

Ruang ganti mereka tidak terlalu jauh dari emperan Malioboro. Sampai di sana kami sempat bingung memutuskan kebaya warna apa yang mau dipakai. Merah, hijau, biru, hitam sempat mendominasi diskusi. Akhirnya setelah terjadi kesepakatan, kami memutuskan memakai warna hijau.

Jadilah kombinasi kebaya hijau beludru dengan kerudung kuning dan jarik coklat. Jujur dibandingkan dengan kebaya yang kami (saya dan Lala) pakai hari sebelumnya, warna kali ini lebih cerah. Sayangnya jasa kali ini lumayan komersil, sedikit sedikit dihitung biaya tambahan. Kalung, anting dan asesoris lain tidak termasuk ke dalam harga paket.

Setelah persiapan yang tidak sebentar akhirnya kami keluar dalam kondisi siap tampil. Memakai kebaya membuat seseorang merasa anggun dan cantik. Entah bagaimana kombinasi baju ini melakukannya, tapi selalu seperti itu yang terjadi (khususnya di diri saya).

Jika hari sebelumnya saya dan Lala dijemput becak, kali ini kami berjalan kaki. Seorang fotografer lengkap dengan kamera DSLR sudah siap mengarahkan dan membidik kami.

Jujur fotografer yang ini lebih baik hati dan lebih sabar tapi instruksinya sulit dipahami. Beda dengan fotografer yang kami pakai di hari sebelumnya, meski terkesan tidak sabaran dan lebih sering cemberut tapi instruksinya lebih mudah dipahami. Hayo, mana yang lebih mending dari keduanya?

Kami meminta sang fotografer untuk menuntaskan jatah foto bersama terlebih dahulu mengingat Mbak Eryka harus segera cabut. Ia manut dan segera mengambil beberapa foto dengan berbagai angle. 

Sekitar pukul 17.30 Mbak Eryka sudah tidak ada di sisi kami. Ia harus buru-buru menanggalkan kebayanya dan berlari (ya bisa jadi kan) mengejar kereta ke stasiun Tugu.

Saya sempat mencemaskannya tapi kabar bahwa ia tidak ketinggalan kereta cukup melegakan. Akhirnya kami meneruskan sesi pemotretan (hanya) bertiga. 


Sempat timbul rasa tidak enak. Bagaimana kalau Mbak Eryka tidak menikmati sesi foto kami dan melakukannya karena setengah dipaksa? Ya, untuk apa saya tanyakan lagi, ia memang kami paksa, haha.

Duh, kalau baca tulisan ini, maaf ya Mbak. Tapi semoga foto kita menjadi oleh-oleh kenang-kenangan untuk pulang ke Solo.

Kami menamatkan sesi di jam 18.38 WIB. Tentu saja setelah sesi memilih foto yang super duper sulit. Kami membayar sekitar Rp.420.000 untuk semuanya (foto dan sewa busana). Sebenarnya harga paket yang kami ambil tidak sampai segitu tapi karena banyak foto yang kami pilih dan pertahankan, jumlah yang harus dibayar jadi membengkak.

Karena sudah malam, saya dan Lala pamit dan berpisah dengan Kak Nik. 

Gelap justru membuat jalanan Malioboro semakin terang. Saya dan Lala kembali ke hotel dengan perasaan campur aduk:  Bisa-bisanya kami pakai jasa foto dan sewa kebaya di Malioboro dua hari berturut-turut!!!

Hai, saya Ire. Bagi saya hidup adalah lifelong learning, pembelajaran yang tiada akhir. Melalui blog ini mari sama-sama belajar sembari sesekali bercerita mengenai kisah perjalanan hidup yang sudah saya lewati :)

Comments