Skip to main content

Membaca Novel Wasripin dan Satinah



Wasripin dan Satinah ini memberi gambaran kita bahwa tak perlu menjadi sosok besar untuk menjadi tokoh utama dalam sebuah karya. Mereka orang biasa, masyarakat terpinggir yang hidupnya lebih banyak ditentukan oleh nasib.

Bagi orang-orang kecil, pilihan adalah sebuah kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka-mereka yang berada. Seperti halnya Wasripin yang harus tumbuh di tangan emak angkatnya yang adalah seorang pedagang ketoprak di daerah Priok. 

Mereka hidup layaknya kaum marjinal, terpinggirkan, mengais rupiah dari cara paling mudah dan bahkan terkadang menjadikan seksualitas sebagai jalan kebahagiaan paling murah.

Mungkin karena Wasripin dipilih sebagai tokoh utama di buku ini, ia memutuskan untuk memberontak. Kabur dari ibu angkatnya untuk mencari desa ibu kandungnya yang sudah mati lebih dulu. 

Tanpa alamat, tanpa nama dan hanya bermodal kalimat bahwa ibunya berasal dari Pantai Utara Jawa Tengah, Wasripin menaiki bus untuk memulai kembali hidupnya.

Buku ini banyak memberi gambaran bagaimana kehidupan orang pesisir. Kita akan diajak untuk hidup di Tempat Pelelangan Ikan, mengenal Surau hingga menyelami konflik-konflik yang kerap terjadi dan dialami masyarakat kampung nelayan.

Oh ya, soal Satinah? Dia adalah biduan keliling yang hidup bersama pamannya yang buta. Pamannya mencungkil bola matanya sendiri sebagai upaya penebusan dosa karena pernah meniduri Satinah. 

Nasib Satinah tak jauh beda dari Wasripin, mereka adalah korban ketidakadilan nasib. Menjadi masyarakat kelas bawah dan mau tak mau harus menuruti alurnya.  Hidup bagi mereka seperti jembatan gantung tanpa ujung yang harus dilalui agar tidak terjatuh.

Dua pasang ketidakberuntungan ini kemudian jatuh cinta. Bukan seperti kisah Romeo Juliet yang termasyur itu, tapi kisah cinta biasa. Sebagai dua insan yang meski hidupnya berantakan tapi masih punya sisa hati untuk bahagia.

Tapi bukan itu. Bukan itu poin utama yang ingin buku ini sampaikan. Wasripin dan Satinah hanyalah pengantar tentang cerita bagaimana politik di negeri ini dimainkan di masyarakat kelas bawah. Kita akan diajak memahami kebusukan politik dan birokrasi di negeri ini dari cara paling sederhana, dari hal-hal yang bisa saja terjadi di sekitar kita.

Dalam buku ini juga digambarkan bahwa masyarakat bawah mudah sekali menerima cerita atau kabar yang memuat harapan. Mereka mudah saja menerima bahwa Wasripin punya ilmu atau dianggap orang terpilih hanya karena ia bermimpi bertemu sosok yang oleh orang-orang diartikan sebagai nabi Khidr.

Mereka hidup bermodalkan harapan jadi apapun yang berkaitan dengan itu akan mereka sambut dengan sebaik-baiknya, akan diterima layaknya sebuah aliran kepercayaan.

Urusan partai lain soal. Mereka akan menggandeng apapun yang didewakan oleh masyarakat. Mereka tak butuh percaya ataupun harapan, mereka hanya butuh suara. Di mana suara rakyat bermukim, disitu mereka mengulurkan tangan.

Mereka tak peduli apakah Wasripin utusan nabi Khidr, punya ajian sakti tertentu atau sekadar orang bodoh yang dielu-elukan. Yang mereka pedulikan adalah rakyat percaya dan manut kepada Wasripin, oleh karena itu mereka menginginkannya. Mereka menginginkan apapun yang dipercayai rakyat.

Ketika tujuan itu tak sesuai harapan, dengan mudah mereka akan menyingkirkannya. Intinya buku ini tidak berkisah seperti halnya drama-drama Korea yang membuat kita jatuh cinta pada karakter atau profesi tertentu. 

Bagi saya pribadi, tak ada karakter yang menyenangkan, tak ada bait yang ingin saya kenang kecuali soal masyarakat serempak membela tokoh-tokoh panutan mereka ketika ditangkap aparat.

Seperti biasa, saya tidak akan membocorkan kisah di dalam buku ini. Saya justru sedang berusaha memeras intisarinya dan menyuguhkan kepada pembaca. Novel ini menggambarkan latar waktu pada masa order baru, antara tahun 1968 hingga 1998. Beberapa selentingan peristiwa lawas seperti Petrus (Penembak Misterius) muncul sebagai penanda. 

Melalui Wasripin, Satinah, Pak Modin (imam Surau), Kuntowijoyo  sebagai penulis ingin menggambarkan dinamika sosial, politik serta budaya yang terjadi pada masa itu. Saya menjadikan novel ini sebagai pembelajaran dan pengetahuan bagaimana politik di masyarakat kelas bawah dimainkan. 

Mungkin background tahunnya sudah kadaluarsa tapi bisa jadi isu-isu yang diangkat masih tetap relevan dengan jaman sekarang. Yah, soal politik, soal partai, soal aparatur dan birokrasi apa menurutmu sejauh ini pernah ada perkembangan? Yang ada hanya berputar disitu-situ saja, bukan? 

Yah, mari kita doakan Wasripin, Satinah dan masyarakat kampung nelayan (dibagian lain di negeri ini)  nasibnya lebih mujur agar setidaknya ada setitik cerita indah yang bisa kita kenang. 



Hai, saya Ire. Bagi saya hidup adalah lifelong learning, pembelajaran yang tiada akhir. Melalui blog ini mari sama-sama belajar sembari sesekali bercerita mengenai kisah perjalanan hidup yang sudah saya lewati :)

Comments