Skip to main content

Mengapa Memilih ke Malaysia?


Kami pernah punya rencana ke Malaysia di awal-awal tahun menikah (sekitar tahun 2016). Bukan lewat jalur mandiri tapi melalui agen dari seorang kawan yang saya kenal. Kami membayar sejumlah uang sebagai tanda jadi dan bukti keseriusan.

Waktu keberangkatan masih jauh dan selama itu, banyak hal terjadi, banyak emosi terlahir dan entah bagaimana ceritanya, kami tiba-tiba saja tidak lagi tertarik ke Malaysia. Perjalanan pertama kami pun batal.

Kami menerima kompensasi berupa pemotongan uang down payment. Tak banyak memang, tapi cukup membuat kami berhenti berbicara soal traveling ke luar negeri selama beberapa waktu.

Nama Malaysia tak cukup bersinar di dalam rumah tangga kami. Kami jarang membicarakannya apalagi memasukkannya ke list destinasi yang ingin dikunjungi. 

Ini sedikit kekanak-kanakan tapi saya pribadi tak cukup senang dengan Malaysia. Membaca banyak berita perseteruan antara bangsa ini dengan Malaysia membuat saya tidak menyukainya.

Dalam gambaran saya, Malaysia itu pencuri dan tidak akan pernah sebaik Indonesia. Ada semacam ketakutan jika harus mendatanginya. Bagaimana kalau kita dicibir atau mendapat perlakuan kasar dari warganya? 

Berbagai macam pikiran negatif mulai menggerogoti kepala saya, membuat nama Malaysia semakin tenggelam dan tak terlihat.

Tapi hidup itu dinamis.

Time flies, dunia bergerak dan manusia bertumbuh, tak terkecuali saya. Akhirnya tiba juga nama Malaysia kembali muncul. Tidak begitu terangnya tapi cukup menarik perhatian saya dan suami. 

Bergaul dengan para blogger dan membaca tulisan mereka membuat pikiran lebih terbuka. Banyak dari kawan-kawan bercerita soal Malaysia. Cerita mereka menarik dan aneh rasanya andaikata saya tidak tertarik. 

Setelahnya, Malaysia perlahan mulai muncul di hidup kami. Di sela-sela pembicaraan makan mie ayam di warung langganan, di tengah-tengah proses mengiris bawang untuk telor dadar, Malaysia mulai hadir.

Dan akhirnya kami datang ke Malaysia. 

Bukan karena dari awal kami memang berniat mendatanginya tapi karena mencari tiket pulang yang lebih murah. Ceritanya kami berencana merayakan Imlek di Singapura. Rencana yang ciamik andaikata kami tidak melihat harga tiket pulang. 

Sudah menjadi rahasia umum kalau tiket ke Singapura itu lebih murah dibanding ke Bali maupun Medan. Sayangnya tidak demikian dengan tiket pulang, rata-rata jauh lebih mahal. Untuk mengantisipasi itu, saya memutuskan untuk pulang dari Malaysia saja. 

Awalnya kami mengincar Johor. Salah satu kota yang hanya selemparan batu dari titik luar Singapura. Harga tiket pesawat jauh lebih murah dari Johor dengan catatan kami harus menyeberang terlebih dahulu. 

Tak masalah! Toh cuma 5 menit dengan harga tiket kereta yang tak lebih dari 100 ribu rupiah. Saya rasa itu masih worth it dibanding harus membayar tiket dengan selisih hingga 700 ribuan per orang.

Tapi sayang rasanya nggak sih kalau ke Johor hanya untuk nitip pulang? Bagaimana kalau tinggal sedikit lebih lama untuk berkeliling? Duh, isi kepala saya seperti bocah tak tau diuntung, dikasih hati malah minta jantung! :D

Begitulah awal mula kami memutuskan tinggal 2 malam di Johor dan pulang dari sana. Eee…belum berhenti disitu. Jemari saya kok iseng sekali! Mulanya hanya mencari daerah-daerah yang menarik untuk dikunjungi tapi kok kata Kuala Lumpur terlihat mencolok sekali di peta Malaysia. Seperti perempuan ranum yang minta dilirik dan didatangi, hahaha.

Kuala Lumpur? Dekatkah? Bagaimana cara kesananya? Awalnya sekadar iseng, saya pun mencari tahu soal itu. Kalau pulang bukan dari Johor tapi Kuala Lumpur apakah tiket jauh lebih terjangkau? 

Nah, itu tadi rentetan cerita bagaimana akhirnya saya dan suami memutuskan untuk ke Malaysia. Dua hari di Johor dan 2 hari di Kuala Lumpur pasca merayakan Imlek di Chinatown Singapura. 

Cerita soal Singapura akan saya ceritakan setelahnya, tapi tulisan ini akan mengawali bagaimana pengalaman kami untuk pertama kalinya datang ke negeri Jiran. 

Plot twist nya, Malaysia tak seburuk seperti yang saya pikirkan. Malaysia salah satu negara yang membuat ketagihan untuk didatangi berkali-kali.

Johor dan Kuala Lumpur sendiri punya karakteristik yang berbeda. Keduanya sama-sama punya keunggulan dan kekurangan. Tapi kalau disuruh memilih, saya lebih suka dengan Kuala Lumpur. 

Ya, belakangan saya sadar, tinggal lama di Jakarta dengan segala kemudahan transportasi membuat saya  kecanduan.

Saya tidak bisa tinggal lama-lama di daerah yang transportasi umumnya belum lengkap maupun terintegrasi dengan baik. 

Johor cukup elit dibanding kota-kota lain di Malaysia (kata beberapa orang sih gitu ) tapi tak cukup komplit dari segi transportasi dibanding Kuala Lumpur. 

Tapi keduanya tetap menarik untuk dikunjungi dan saya bersyukur bisa merasakan bagaimana suasana ramadan di kedua kota tersebut. 

So, selamat datang di cerita saya traveling bersama suami ke negeri Jiran. Mungkin tidak selengkap atau semenarik dibanding cerita temen-temen yang lain tapi semoga kalian suka ya :)

Oh ya, bisa dibilang kami backpackeran, jadi tempat-tempat tujuan, hotel pula makanan, bisa dibilang jauh dari kata mewah. Ya, tapi memang begitu cara saya menjelajah dari dulu. 

Saya cukup nyaman melakukan perjalanan dengan cara-cara sederhana karena memang tujuannya bukan untuk liburan, tapi menjelajahi tempat-tempat baru. So, enjoy the story :)


Hai, saya Ire. Bagi saya hidup adalah lifelong learning, pembelajaran yang tiada akhir. Melalui blog ini mari sama-sama belajar sembari sesekali bercerita mengenai kisah perjalanan hidup yang sudah saya lewati :)

Comments