Buku yang pernah mendapatkan penghargaan Pulitzer dan Award of Merit Medal di tahun 1953 dan nobel sastra di tahun setelahnya. Deretan penghargaan yang membuat seseorang penasaran untuk membacanya. The Guardian menyebut novel ini ditulis dengan seni naratif yang luar biasa.
Premisnya sebenarnya cukup sederhana, seorang lelaki tua yang berburu ikan di tengah laut seorang diri. Tanpa banyak tokoh, setting maupun konflik yang luar biasa. Pendek ceritanya begini, si pria tua ini sempat dijuluki salao yang artinya bentuk terburuk dari ketidakberuntungan.
Pasalnya si pria melewatkan 84 hari di lautan tanpa menangkap ikan barang seekorpun. Namun tekadnya tak seusang usianya, ia kembali melaut seorang diri dan berhasil menangkap ikan Marlin yang ukurannya jauh lebih besar dari kapalnya. Tidak mudah, butuh puluhan hari untuk saling tarik menarik dan bertahan di tengah kondisi dan cuaca laut yang tak menentu.
Saya membayangkan film-film seperti Cast Way, Life of Pi dan film-film lain dengan minim tokoh ketika membacanya. Apa yang bisa diceritakan dari seorang pria tua yang berada di tengah laut seorang diri dengan ikan yang tak mampu ia angkat?
Tak banyak pula kegiatan yang bisa si tua lakukan di atas perahu kecil itu kecuali pikiran-pikiran liarnya tentang bisbol dan ingatan bahwa ia adalah seorang pria perkasa di masa tertentu dan seorang anak kecil yang peduli padanya tapi tidak ikut melaut bersamanya.
Rasanya kondisi itu terlalu sederhana tapi Ernest Hemingway membuatnya sangat mungkin untuk diceritakan. Tentang bagaimana si tua yang makin lama makin merasa kasihan dengan ikan tangkapannya, meski tetap saja ia ingin membunuhnya dan memenangkannya.
Awalnya ia ragu akankah ia diseret oleh si ikan ataukah ia yang akan berhasil menyeret si ikan. Ini bukan soal kekuataan sesaat tapi ketahanan selama berhari-hari. Bisa saja salah satu di antara mereka menyerah karena lelah baik secara fisik maupun mental.
Bisa saja si ikan lelah karena tak bisa melepaskan mulutnya dari jeratan kail tapi bisa jadi juga si lelaki tua itu yang menyerah karena tangannya mulai lelah di tengah kondisinya semakin hari semakin parah.
Tapi rasa bangga lebih dulu memenuhi dadanya. Rasa bahagia karena berhasil menangkap ikan raksasa pasca rentetan hinaan yang ia terima sebelumnya. Di sinilah terlihat bagaimana sebuah tekad itu bekerja, si pria berhasil mengangkat ikan itu lalu membunuhnya.
Kejadian selanjutnya menarik untuk dibaca secara langsung jadi (maaf tapi) bacalah sendiri. Jujur menurut saya pribadi saya tidak menemukan apa seperti yang orang bilang terlebih soal seni naratif. Mungkin karena saya membaca buku terjemahan. Buku terjemahan unggul di cerita sementara dari segi bahasa sulit untuk dinikmati atau dirasakan secara sama seperti ketika membaca dalam bahasa aslinya.
Saya secara pribadi tidak menganggap cerita dari buku ini luar biasa. Tapi itu subjektif saya dan soal selera saja. Mungkin sayalah yang gagal mengambil makna mendalam dari ceritanya atau memang kapasitas literasi saya masih minim dan terbatas.
Ulasan ini juga tidak akan panjang karena saya tak punya lagi hal yang saya rasa perlu untuk diceritakan. Sayangnya sejauh ini saya rasa cerita hidup Ernest Hemingway lebih menarik untuk diceritakan melebihi karya-karya yang dia hasilkan. Ya, orang lain boleh beda pendapat, tak masalah.
Comments
Post a Comment