Skip to main content

Mencetak Keuntungan dari Warung Makan Kecil-Kecilan

 


Beberapa waktu lalu saya dan suami mendatangi sebuah warung makan di daerah Depok. Warung makan ini menjual aneka sambel sebagai menu utama dengan harga cukup terjangkau dan punya banyak cabang di mana-mana. 


Begitu sampai di parkiran saya cukup terkejut, kami harus masuk waiting list dengan antrian yang cukup panjang. 


“Penuh Mbak, kalau mau nunggu dulu!” kata si Bapak tukang parkir. 


Saya yang sudah mendapat kode darurat dari perut memilih menyerah. Kami akhirnya tancap gas untuk menuju ke warung makan yang lain.


Dalam perjalanan saya berpikir, rupanya di tengah kondisi ekonomi yang katanya tidak stabil seperti sekarang, orang masih rela mengantri berjam-jam untuk bisa makan di warung kesukaannya. Urusan perut memang tidak ada matinya. Orang bisa saja downgrade gaya hidup, tapi tidak dengan urusan perut.


Dalam kondisi apapun, perut tetap butuh asupan. Makan tetaplah kebutuhan. Jika ditarik lebih jauh, ini artinya bisnis kuliner tak akan pernah ada matinya. 


Warung makan memang terdengar sepele tapi diam-diam bisa memberikan keuntungan yang cukup menjanjikan. Ini bukan isapan jempol, saya bahkan pernah mendengar sendiri warung penyet lele langganan saya di Semarang meraup omzet hingga 4 juta rupiah per hari. 


Belum lagi kalau kita main ke Blok M, banyak usaha kuliner yang meraup keuntungan berlipat-lipat setiap harinya. Tak perlu sampai ke resto-resto mahal, ambil saja contoh pedagang gultik yang ada di sekitar jalan Bulungan yang omzetnya bisa mencapai 1.5 juta per hari. 


Di Indonesia sendiri, usaha kuliner menunjukkan angka yang cukup fantastis. Data BPS 2025 menyebutkan, di tahun 2024 saja ada sekitar 5,2 juta usaha penyediaan makanan dan minuman. Jumlahnya semakin meningkat seiring dengan kebutuhan pasar.


Bisnis warung makan bukan ide buruk. Justru di era ekonomi seperti sekarang, ini bisa menjadi salah satu upaya penyelamatan kondisi keuangan yang mulai mengkhawatirkan. 


Kabar baiknya lagi usaha warung makan memungkinkan kita untuk mendapat keuntungan dan pemasukan setiap hari, namun kabar buruknya, jika pemasukan tersebut tidak dikelola dan dicatat  dengan baik maka bisa berimbas pada keberlangsungan usaha.


Warung yang ramai dan beromzet besar belum tentu sehat secara keuangan. Tanpa pengelolaan dan pembukuan semua itu seperti menanam bom waktu yang siap meledak kapan saja. 


Masalah Klasik yang Sering Dihadapi Usaha Warung Makan


Jim Conroy, CEO The Neat Company yang telah menghabiskan karirnya untuk membantu usaha kecil pernah berkata bahwa kegagalan suatu bisnis bisa dikarenakan transaksi yang tidak tercatat serta pembukuan yang tidak diorganisir dengan baik.


Di salah satu platform entrepreneur ia juga mengemukakan mengenai 9 kesalahan pembukuan yang dilakukan usaha kecil di antaranya;

  • Mengabaikan pembukuan
  • Menunda pembukuan
  • Hanya berfokus pada hal-hal atau transaksi besar
  • Tidak punya cadangan pembukuan
  • Tenaga tambahan yang tidak tercatat dengan baik
  • Tidak memeriksa buku dan catatan keuangan
  • Mencampurkan urusan bisnis dan pribadi
  • Tidak mengatur akun pembukuan dan kategori pengeluaran dengan benar
  • Tidak mengikuti perkembangan bisnis

Dari kesalahan-kesalahan tersebut, kita bisa mengukur seberapa penting pembukuan untuk suatu usaha. Dengan pembukuan yang rapi, kesalahan-kesalahan fatal bisa dihindari.


Masalahnya, warung makan kecil lebih cenderung abai soal pembukuan. Hal ini bisa disebabkan beberapa faktor seperti ; kurangnya keterampilan akuntansi, terlalu fokus pada penjualan, menganggap skala usahanya terlalu kecil hingga keterbatasan biaya (budget).


Faktanya tidak semua pelaku usaha warung makan adalah orang lulusan akuntansi atau pernah mendapat pelajaran akuntansi. Jika demikian, selain kurang secara keilmuan, tingkat kesadaran terkait pembukuan otomatis juga kurang. 


Banyak juga yang menganggap bahwa dalam berbisnis, yang utama adalah mencetak penjualan sebesar-besarnya sehingga, faktor-faktor pendukung lain seperti pembukuan lebih sering diabaikan dan bahkan disepelekan.


Terakhir, banyak pengusaha salah menganggap bahwa pembukuan hanya dilakukan untuk usaha-usaha skala besar sementara kelas warung kecil dirasa belum cukup perlu. 


Soal terakhir ini mengingatkan saya dengan konten salah seorang pemilik warung kelontong. Dalam konten-kontennya, ia membagikan tips dan trik agar warung kelontong lebih cuan atau lebih menguntungkan.


Dari konten tersebut saya pun sadar bahwa ternyata usaha kecil pun jika dikelola dengan baik maka akan lebih maksimal dan menguntungkan. Sama halnya dengan usaha warung makan, meskipun skalanya kecil dan menengah namun jika dikelola dengan baik maka potensi untuk survive dan berkembangnya akan jauh lebih cepat.


Adaptasi Perkembangan Teknologi Sebagai Solusi


Saya pernah bekerja sebagai stock accounting di salah satu perusahaan industri dan beruntungya kala itu proses akunting sudah menggunakan software akuntansi kelas industri. Saya pernah mendengar cerita dari para senior bahwa dulu sebelum memakai software, mereka masih melakukan pembukuan secara manual, ditulis manual lalu di input satu per satu ke komputer. Bisa dibayangkan betapa chaos kondisi ruangan akunting setiap akhir bulan atau selama tutup buku berlangsung.


Saya saja yang sudah menggunakan software dengan kinerja lebih cepat masih kelabakan apalagi jika dikerjakan secara manual. Pasti ribet dan pusing.


Kita bisa dibilang beruntung karena hidup di era digital. Semua itu menjawab semua tantangan yang tadi saya sebutkan. Di era ini, pembukuan bisa dilakukan dengan lebih mudah dan praktis. Meskipun kita bukan lulusan akuntansi dan tak paham ilmunya, tapi ada aplikasi kasir warung  yang bisa dipakai untuk membantu merapikan transaksi harian pembukuan usaha kita.


Aplikasi Labamu misalnya. Aplikasi ini bisa membantu pelaku usaha mengelola bisnis secara digital. Jika dulu kita masih diribetkan dengan proses pembukuan yang banyak dan rumit, melalui satu aplikasi ini semua kegiatan pencatatan bisa diselesaikan dalam satu wadah digital.


Lalu transaksi apa saja yang bisa dicover dari aplikasi kasir warung Labamu?

 


(sumber : aplikasi Labamu)


Mencatat Transaksi Penjualan

Aplikasi ini punya fitur POS (Point of Sale) yang berfungsi sebagai kasir digital. Jadi pemilik usaha bisa memasukkan setiap transaksi dan memilih metode pembayaran yang tersedia. Di sini pemilik tidak perlu lagi melakukan penghitungan secara manual.


Mengelola Stok Barang dan Bahan Baku

Ada fitur pengelolaan produk dan inventaris untuk membantu pemilik memantau persediaan. Hal ini memudahkan pemilik untuk mengukur kebutuhan belanja berikutnya agar tidak terjadi kelebihan stok.


Menyediakan Laporan Penjualan

Melalui aplikasi Labamu pemilik otomatis bisa melihat laporan penjualan baik harian, mingguan dan bahkan bulanan. Laporan ini nantinya bisa dipakai untuk bahan evaluasi dan pertimbangan untuk mengambil berbagai keputusan kebijakan.


Mempermudah Pembayaran dan Penagihan

Labamu juga sudah mendukung metode pembayaran melalui QRIS. Hal ini tentunya memudahkan pelanggan dalam melakukan transaksi pembayaran. Selain itu juga tersedia fitur tagihan dan faktur sesuai kebutuhan usaha.


Dari satu aplikasi saja kita bisa menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi warung makan, seperti; transaksi yang sering lupa dicatat, kesulitan menghitung penjualan harian, kebutuhan informasi stok hingga kebutuhan laporan yang diperlukan untuk bahan evaluasi.


Labamu tahu betul cara mengelola warung makan. Melalui satu aplikasi ini, warung makan tidak hanya ramai pembeli tapi juga punya pencatatan penjualan harian yang rapi. 


So, mulai bisnis warung makanmu sekarang juga dan serahkan persoalan pencatatan pada ahlinya. Dengan aplikasi kasir warung saya pun yakin, warung makan yang kecil pun bisa mencetak keuntungan yang maksimal!




Hai, saya Ire. Bagi saya hidup adalah lifelong learning, pembelajaran yang tiada akhir. Melalui blog ini mari sama-sama belajar sembari sesekali bercerita mengenai kisah perjalanan hidup yang sudah saya lewati :)

Comments