Skip to main content

Cicin Lahiran Lagi!


Kabar kehamilan Cicin sebenarnya sudah kami endus sedari lama. Tubuhnya kembali menggemuk dan terlihat lebih malas dari biasanya. Kala itu kami sempat ragu apakah Cicin benar hamil atau cuma efek kebanyakan makan. Dan malam lalu, 3 Agustus Cicin benar-benar melahirkan 2 bayi kucing. Oh my god!

Siang hari terasa aneh, tak biasanya Cicin memaksa masuk ke dalam kamar saya. Ia berlari dan bersembunyi di samping almari. Tak hanya dia, Luffy dan Zoro, anak semata wayangnya pun mengikuti langkahnya. Mereka bertiga yang biasanya berkeliaran di belakang rumah kini berbondong-bondong memaksa stay di dalam kamar.


Sesekali Luffi menjilati muka Cicin seolah sedang menenangkan sementara Zoro terlihat sibuk dengan dirinya sendiri, mungkin ia sendiri tak tahu mengapa harus mengikuti kedua orang tuanya menuju kamar.


Jangan-jangan Cicin mau lahiran? Jadi benar Cicin hamil? Pikiran saya mulai berkelana ke mana-mana. 


Malamnya suami berkata Cicin mengandung 2 bayi. Ia tahu setelah meraba perutnya. Pukul 21.56 gelagat Cicin makin aneh. Saya menyuruh suami untuk memindahkan Cicin ke luar kamar. Dulu pertama kali dia melahirkan, bau amis menyebar ke seluruh ruangan. Saya tak mau hal yang sama terjadi di kamar tidur yang ukurannya tak seberapa ini.


Cicin berjalan dengan kesusahan, seakan sesuatu menunggu keluar dari anusnya. Saya tak berani melihat maupun mendekatinya, entah mengapa ngilu aja rasanya. Akhirnya mau tak mau suami yang mendekat dan mengurus mereka.


Saya ikut deg-degan dan memegang tangan suami ketika menunggu si bayi lahir. Ternyata momen-momen lahiran itu mendebarkan. Bagaimana ya kalau itu terjadi pada saya? Haduh berat sekali rasanya! 


Pukul 22 lebih beberapa menit bayi kucing keluar. Warnanya putih, ada beberapa titik hitam tapi tidak banyak, 2 di belakang kepala, ekor dan sedikit di punggung. 



Cicin membawanya ke belakang rumah. Kami menyiapkan alas tapi dia menolak dan memilih menaruh anaknya di lantai paving yang tidak terlalu bersih.


Tak ada darah berceceran seperti kelahiran sebelumnya. Si bayi kucing masih tersambung dengan plasenta. Entah benar atau salah tapi kami memotongnya dengan menggunakan gunting lalu buru-buru menguburnya ke dalam pot pohon kunyit yang tak terlalu subur di belakang rumah.


Tak ada tanda-tanda Cicin akan mengeluarkan bayi lagi tapi ternyata saya salah. Selang bermenit-menit Cincin kembali melahirkan seekor bayi kucing berwarna hitam legam. Suami girang melihat warnanya. Ia tahu saya ingin kucing warna hitam, dan kematian bayi Nodame beberapa bulan lalu membuat saya cukup kecewa.





Rasanya ingin memeluk Cicin, hebat sekali dia. Setiap melahirkan tak pernah bersuara maupun merengek. Semua terjadi begitu saja. Kali ini lebih rapi karena tak ada darah maupun aroma-aroma amis yang tersebar ke dalam rumah. 


Kami menyiapkan kandang, mengalasinya dengan kardus bekas, menutup bagian atas dengan handuk agar tidak terlalu terang. Sayangnya Cicin tak menyukainya.


Kami sudah mencoba memindahkan kedua anaknya ke kandang tapi kepala mereka malah terjepit karena ingin keluar. Akhirnya kami membiarkan Cicin memproteksi anaknya sendiri. Ya, suka-suka dialah!


Mereka sampai saat ini tinggal di tumpukan hebel sisa pembangunan yang kami susun membentuk sebuah ruang kecil. Kami menutup pintu depannya dengan kain agar Cicin dan kedua bayinya merasa aman.




Ini adalah hari kedua kedua bayi itu tinggal di rumah kami. Terkadang mereka mengeong cukup keras. Bedanya kali ini Cicin tak langsung berlari setiap kali bayinya mengeong. Mungkin dikelahiran sebelumnya ia masih belum bisa mengontrol emosi karena baru mengalami pertama kali. Kali ini Cicin terlihat lebih tenang dan santai seperti sudah expert :D


Yah begitulah. Dengan keliharan 2 bayi kucing baru, akhirnya kami sekarang punya 5 ekor kucing. Karena rumah kami tidak terlalu besar dan kami kerap bepergian, akhirnya kami memutuskan untuk mengebiri Luffy. Ya, kami sedang mencari tempat yang cocok untuk Luffy sunat. 


Rasanya campur aduk. Di satu sisi saya senang membayangkan bayi-bayi itu akan segera tumbuh lucu-lucu dan menggemaskan tapi di sisi lain saya harus mulai memikirkan rumah yang harus lebih sering dibersihkan.


Saya juga mencoba untuk tidak membayangkan bagaimana nasib mereka ketika kami mudik lebaran nanti. Ya, ada hal-hal yang lebih baik dijalani saja tanpa rasa khawatir, perkara kucing salah satunya.


NB : Btw, enaknya dikasih nama apa ya? Kan ini keluarga temanya One Piece, sudah ada Luffy, Zoro…Bagi yang punya saran, silakan tulis di kolom komentar yak :)



Hai, saya Ire. Bagi saya hidup adalah lifelong learning, pembelajaran yang tiada akhir. Melalui blog ini mari sama-sama belajar sembari sesekali bercerita mengenai kisah perjalanan hidup yang sudah saya lewati :)

Comments